China-Australia Bersitegang, Batu Bara Gagal Naik ke US$ 60

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
22 May 2020 11:30
An undated handout photo of Whitehaven Coal's Tarrawonga coal mine in Boggabri, New South Wales, Australia.   Whitehaven Coal Ltd/Handout via REUTERS   ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE HAS BEEN SUPPLIED BY A THIRD PARTY. NO RESALES. NO ARCHIVES
Jakarta, CNBC Indonesia -  Harga batu bara termal Newcastle untuk kontrak yang ramai diperdagangkan ditutup melemah kemarin. Ke depan harga batu bara berpotensi kembali tertekan oleh kebijakan China dan perang dagang Negeri Kangguru dengan Negeri Panda.

Kamis (21/5/2020), harga batu bara turun 0,71% ke US$ 55,9/ton. Penurunan harga terjadi setelah harga batu bara menyentuh level tertinggi sejak 20 April 2020. Harga yang sudah melesat tinggi memang rawan koreksi karena adanya potensi profit taking yang dilakukan para trader




China diperkirakan akan memperketat aturan impor batu bara pada paruh kedua tahun 2020 untuk menopang industri domestiknya yang sedang kesulitan. Kemungkinan diambilnya kebijakan ini dilandasi oleh lonjakan impor batu bara China dalam empat bulan pertama tahun ini.

Jika kebijakan ini benar-benar diambil pemerintah China maka dampaknya adalah akan meningkatkan tekanan pada eksportir batu bara utama, seperti Australia, Indonesia dan Rusia, yang sudah berjuang melawan lemahnya permintaan karena wabah corona.





James Stevenson, direktur senior di IHS Markit, memperkirakan impor batu bara setahun penuh China dapat turun menjadi 275 juta ton, dengan batu bara termal turun sekitar 20 juta ton, sementara untuk jenis batu bara metalurgi diperkirakan mengalami sedikit peningkatan.

Asosiasi Batu bara Nasional China memperkirakan permintaan akan menurun pada kuartal kedua tahun ini, setelah turun 6,8% pada kuartal pertama karena penanganan wabah telah memaksa pabrik-pabrik tutup dan tak beroperasi.

Reuters melaporkan para penambang batu bara Cina mencatat rekor produksi yang tinggi pada tahun 2020 menanggapi seruan Beijing untuk memastikan pasokan energi. Namun dengan membanjirnya impor, ditambah dengan konsumsi yang lebih rendah telah memangkas margin keuntungan sebesar 30% pada kuartal pertama.

"Penambang batu bara Cina sedang mengalami masa yang sulit," kata seorang pejabat asosiasi batu bara yang tidak mau disebutkan namanya karena dia tidak berwenang berbicara dengan media. "Jadi pembangkit listrik tenaga batu bara didorong untuk membeli lebih banyak dari pasokan domestik."

Selama sebulan terakhir atau lebih, setidaknya tiga pedagang mengatakan, importir batu bara telah melihat proses kliring pabean diperpanjang hingga 40 hari dari sekitar seminggu biasanya.

Namun batas tersebut tetap saja tidak banyak memperlambat impor selama empat bulan pertama 2020 yang tercatat melonjak 26,9% dari periode yang sama pada 2019 menjadi 126,73 juta ton, data pabean menunjukkan.

Sumber tersebut mengharapkan langkah lebih lanjut untuk memperlambat impor, meskipun tidak ada tanda bahwa China berencana untuk memilih pemasok tertentu. 

Selain kebijakan impor China yang masih tidak pasti, pelaku pasar juga mencermati perkembangan ketegangan hubungan dagang antara Australia dan China.

Beberapa pedagang berspekulasi bahwa ketegangan perdagangan baru-baru ini antara Beijing dan Canberra atas pengiriman gandum dan daging dapat menumpuk menjadi batu bara, untuk mengulangi penundaan pengiriman bahan bakar Australia tahun lalu. 

"Jika tujuannya adalah untuk mengendalikan impor, Cina dapat menggunakan pembatasan pelabuhan, ditambah dengan menentukan pihak mana yang diizinkan untuk mengimpor batubara," kata Pat Markey, direktur pelaksana Sierra Vista Resources di Singapura.

Dua hal ini tentu berpotensi kembali membuat permintaan batu bara lintas laut di kawasan Asia Pasifik tertekan. Akibatnya harga juga bisa sewaktu-waktu ambles.




TIM RISET CNBC INDONESIA (twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading