Sandiaga Uno: Jangan Sampai Gojek & Tokopedia Cs IPO di Luar!

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
16 May 2020 08:58
Sandiaga Salahuddin Uno mengikuti seminar dan diskusi mengenai Kewirausahaan di Kerinci, Jambi. (Dok Tim Media Sandiaga Uno)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pengusaha dan pemilik saham PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG), Sandiaga Uno terus mendorong perusahaan-perusahaan rintisan atau startup di Tanah Air untuk mencatatkan saham perdana (initial public offering/IPO) di pasar modal.

Menurut Sandi, dengan menjadi perusahaan publik, langkah itu akan menjadi titik puncak dari kesuksesan perusahaan.

Mengapa demikian? Sebab, kata mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta ini, dengan menjadi perusahaan tercatat atau emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI), memberikan ruang bagi investor publik untuk memiliki saham perusahaan yang pada akhirnya turut memberikan andil terhadap perekonomian nasional.

Apalagi, pasar saham Indonesia cukup menjanjikan, sehingga, perusahaan bisa merencanakan untuk mencatatkan saham melalui skema penawaran umum perdana atau IPO dalam kurun waktu 3 sampai 5 tahun ke depan dengan mengambil berbagai langkah strategis.

"Harus bilang bahwa 5 tahun lagi perusahaan kita harus IPO, perusahaan kita harus melenggang ke bursa jua. Kenapa? Karena itulah titik pencapaian kesuksesan daripada kita sebagai pengusaha," tuturnya, melalui pemaparan webinar, Kamis (14/5/2020).


"Kita memiliki satu investasi itu for better future, for better society. Nah, alangkah baiknya kalau kita memberikan kesempatan kepemilikan saham di usaha kita ini kepada publik," tambah Sandi.

Akan tetapi, Sandi memberi catatan, otoritas bursa yakni Bursa Efek Indonesia dan otoritas pasar modal yakni Otoritas Jasa Keuangan (OJK), harus beradaptasi dengan menyederhanakan regulasi agar lebih banyak lagi perusahaan yang akan melantai di pasar modal Tanah Air.

Sebab bila tidak, bukan tidak mungkin, perusahaan rintisan dengan valuasi unicorn atau US$ 1miliar (sekitar Rp 15 triliun, asumsi kurs Rp 15.000/US$) dan decacorn atau valuasi US$ 10 miliar (Rp 150 triliun) bisa melantai di bursa saham luar negeri, bukan BEI.

"Kalau bursa kita, BEI, lalu OJK kita gak berubah, ya orang-orang akan invest di luar negeri, dan akan IPO-nya perusahaan-perusahaan kita bukan di bursa kita. Jadi kayak Gojek, Tokopedia, ah sudah lah kita ke Nasdaq aja atau ke Hong Kong Stock Exchange, gak di BEI," tutur Sandi.

Secara terpisah, BEI menyebutkan sudah beberapa kali melakukan pertemuan dengan perusahaan rintisan unicorn terkait rencana perusahaan ini melakukan penawaran umum saham perdana di bursa saham Indonesia.


BEI juga sudah memfasilitasi papan akselerasi yang diperuntukkan bagi perusahaan-perusahaan rintisan melantai di bursa.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI IGD N Yetna Setia mengatakan Bursa dan pemerintah sudah memberikan insentif untuk perusahaan yang melakukan IPO di dalam negeri. Selain untuk menambah jumlah emiten, juga untuk menarik minat perusahaan ini mau mencatatkan saham di dalam negeri.

"Kita sudah berapa kali ketemu sama Traveloka, sebelum pernyataan disampaikan sudah ketemu, kami tunggu dari mereka. Sudah semua yang kamu sebutkan [startup unicorn] sudah ketemu," kata Yetna di Gedung BEI, Jakarta, Senin (2/12/2019).

Menurut dia, Bursa akan terus melakukan komunikasi dengan perusahaan-perusahaan tersebut untuk mengidentifikasi kendala lainnya yang menghalangi eksekusi aksi korporasi tersebut.

"Kan ada pajak [pajak IPO dan keringanan pajak dividen] sudah ada Omnibus Law, kita bahas itu ... Kita [bursa] dalam posisi follow up ke mereka untuk cari jalan keluar," imbuhnya.


[Gambas:Video CNBC]




(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading