Dampak Corona, Garuda & Krakatau Steel Siap Disuntik Rp 12 T

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
12 May 2020 13:38
A seal is seen on Garuda Indonesia's Boeing 737 Max 8 airplane parked at the Garuda Maintenance Facility AeroAsia, at Soekarno-Hatta International airport near Jakarta, Indonesia, March 13, 2019. REUTERS/Willy Kurniawan

Jakarta, CNBC Indonesia - Dua BUMN yang memiliki porsi utang cukup besar yakni PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) dan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) akan menerima dana talangan (investasi) hampir Rp 12 triliun atau total senilai Rp 11,5 triliun.

Berdasarkan dokumen paparan Menteri Keuangan dengan Komisi XI yang diperoleh CNBC Indonesia, untuk dua perusahaan ini dana tersebut dianggarkan untuk membantu modal kerja perusahaan.

Secara detail, maskapai pelat merah ini akan menerima dana senilai total Rp 8,5 triliun dan produsen baja KRAS akan menerima bantuan modal kerja ini senilai Rp 3 triliun dari pemerintah.

Dana talangan ini diterima kedua perusahaan bersama dengan empat BUMN lainnya dengan total dana talangan mencapai Rp 32,65 triliun. Keempat BUMN lain yakni Perum Bulog Rp 13 triliun, PTPN Rp 4,0 triliun, PT Kereta Api Indonesia (Persero) Rp 3,5 triliun, dan Perum Perumnas Rp 650 miliar.

Adapun dana tersebut masuk dalam kebijakan pemerintah untuk melakukan program pemulihan ekonomi nasional (PEN). Program tersebut disiapkan untuk memberikan stimulus kepada berbagai jenis kalangan usaha mulai dari UMKM, BUMN hingga korporasi.


Untuk BUMN sendiri secara total terdapat tiga program yang disiapkan pemerintah dengan total dana suntikan total mencapai Rp 152,15 triliun.

Dana suntikan itu akan terbagi atas tiga skenario yakni dalam bentuk penyertaan modal negara (PMN) senilai Rp 25,27 triliun, pembayaran kompensasi sebesar Rp 94,23 triliun dan talangan investasi sebesar Rp 32,65 triliun. Skema yang terakhir inilah yang akan dinikmati Garuda, KRAS, Bulog, KAI, PTPN, dan Perumnas.

Sebelumnya Garuda memang tengah dilanda kesulitan utang setelah melakukan negosiasi dengan pemegang sukuk perusahaan. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) bahkan berkoordinasi dengan Kementerian BUMN untuk membantu keuangan Garuda, terutama dalam membayar utang yang jatuh tempo tahun ini.

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Luky Alfirman saat itu mengatakan, bantuan seperti apa yang akan diberikan masih dalam pembahasan secara intens.

Adapun utang Garuda Indonesia yang jatuh tempo pada 3 Juni 2020 adalah berupa sukuk global senilai US$ 500 juta atau setara Rp 7,5 triliun (kurs Rp 15.000/US$).



"Ini lead-nya Kementerian BUMN, kami sedang pikirkan beberapa alternatif. Insya Allah untuk sukuk itu kan memang bulan Juni (jatuh tempo) kami sedang cari solusi untuk bantu Garuda," ujar Luky melalui teleconference, Jumat (8/5/2020).

Adapun KRAS juga masih punya beban utang. Pada awal Januari lalu, KRAS menyampaikan sudah menyelesaikan proses restrukturisasi utang senilai US$ 2 miliar atau setara Rp 27,22 triliun (asumsi kurs Rp 13.611/US$). Ini merupakan restrukturisasi utang terbesar yang pernah ada di Indonesia.

Restrukturisasi ini melibatkan 10 bank nasional, swasta nasional dan asing. Penandatangan perjanjian restrukturisasi ini dilakukan untuk transformasi bisnis KRAS menjadi lebih sehat.

"Melalui restrukturisasi ini, total beban selama sembilan bulan tahun utang dapat diturunkan secara signifikan dari US$ 847 juta menjadi US$ 466 juta. Selain itu, penghematan biaya juga kita dapatkan dari restrukturisasi Krakatau Steel utang selama sembilan tahun sebesar US$ 685 juta," kata Direktur Utama KRAS, Silmy Karim, Selasa (28/1/2020).


[Gambas:Video CNBC]




(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading