Emiten dari Sektor Ini Paling Sengsara Hadapi Efek Covid-19

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
12 May 2020 13:27
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)
Jakarta, CNBC Indonesia - Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) menyatakan lebih dari 50 emiten mengalami kesulitan arus kas akibat pandemi virus Corona (Covid-19).

Direktur Eksekutif Asosiasi Emiten Indonesia, Samsul Hidayat merinci ada beberapa sektor yang paling tertekan akibat dampak dari pandemi ini karena pendapatan turun signifikan. Emiten-emiten yang terdampak serius tersebut berasal dari industri perhotelan dan parisiwisata, transportasi.

Langkah pemerintah meredam penyebaran Covid-19 dengan menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) telah berdampak pada aktivitas bepergian atau pelesiran. Tentu ini akan membuat kinerja emiten-emiten tersebut semakin berat pada paruh kedua tahun ini.


"Kalau kita lihat sudah pasti semester pertama growth perekonomian terjadi penurunan, karena memang terjadi perlambatan perekomomian, terutama beberapa sektor yang berkontribusi terhadpa PDB tidak bergerak sama sekali," kata Samsul, saat dihubungi CNBC Indonesia melalui sambungan telepon, Senin (12/4/2020).

Samsul menambahkan, pandemi ini juga mendisrupsi bisnis di sektor otomotif. Dalam situasi saat ini masyarakat memilih tidak membeli kendaraan baru, justru banyak yang menjual.

Emiten otomotif terbesar tanah air, PT Astra International Tbk (ASII) mengamini hal tersebut dan memperkirakan penjualan kendaraan tahun ini akan terkoreksi 40%.

"Selain itu karena dampak pandemi Covid-19 telah bertambah berat dan telah diterapkannya tindakan-tindakan pembatasan untuk menanggulangi pandemi tersebut, kondisi yang dihadapi semakin sulit dan memberikan dampak yang semakin besar terhadap kinerja Grup Astra pada bulan April," kata Prijono Sugiarto, dalam keterangan pers, Senin (27/4/2020).


Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonedia (Gaikindo) sempat menyampaikan para perusahaan otomotif tidak memiliki target penjualan muluk-muluk dalam menghadapi momen Ramadhan dan lebaran di tahun ini. Sehingga tidak ada target khusus yang dibebankan.

Sekretaris Jenderal Gaikindo Kukuh Kumara bersikap lebih realistis di tahun ini karena masa pandemi corona belum terlihat kapan berakhir.

"Kami Gaikindo melihatnya sekarang prioritasnya pandemi dulu. Selama pandemi masih ada, nggak akan ada peningkatan. Nggak ada orang mau beli kendaraan. Kalau pun ada, sangat sedikit. Karena mobil pun kebutuhan ke berapa lah. Bukan yang utama. Kecuali benar-benar kritis," kata Kukuh kepada CNBC Indonesia, Selasa (21/4).

Manufaktur & Agrobisnis
Selain itu, tambah Samsul, sektor lain yang berpengaruh sangat signfikan adalah manufaktur karena banyak pabrik yang menghentikan operasionalnya. Lesunya penjualan produk dan kegiatana operasional di sektor manufkatur karena terhentinya operasional pabrik akibat pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Hal ini juga terlihat dari penurunan Purchasing Managers' Index Indonesia juga jatuh ke level terendahnya sejak 2011 pada angka 27,5. Padahal, sebulan sebelumnya, PMI masih di level 43,5. Tentunya, hal ini juga akan berdampak terhadap perusahaan manufaktur yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.

Selanjutnya yang juga akan terkena dampaknya adalah sektor konstruksi yang melambat, karena pemerintah akan mengalihkan kemampuan fiskalnya untuk menyelesaikan Covid-19 dan fokus memberikan bantuan bagi masyarakat terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK) atau dirumahkan melalui pemberian bantuan sosial.

"Sektor keuangan juga akan terganggu, tetapi ini tidak bisa berhenti," ujar Samsul lagi.



Sementara itu, Menurut Wakil Ketua Umum AEI, Bobby Gafur Umar, sektor perkebunan kelapa sawit juga akan tertekan karena turunnya permintaan dari China dan gejolak harga komoditas. Hal yang sama juga berlaku bagi emiten di sektor minyak dan gas beserta turunannya karena harga minyak dunia yang berfluktasi akibat pandemi.


[Gambas:Video CNBC]




(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading