Tangguh! Rupiah Balik Arah di Bawah 15.000/US$ & Juara Asia

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
06 May 2020 16:02
Indonesian rupiah banknotes are counted at a money changers in Jakarta, Indonesia April 25, 2018. REUTERS/Willy Kurniawan
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah menguat melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (6/5/2020) meski menghabiskan mayoritas perdagangan di zona merah. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo yang mengatakan rupiah akan menguat pada hari ini akhirnya terbukti.

Begitu perdagangan hari ini dibuka, rupiah langsung melemah 0,13%. Depresiasi semakin membesar hingga 0,43% di Rp 15.095/US$ yang menjadi level terlemah intraday. Setelahnya posisi rupiah membaik, tetapi masih berada di zona merah.

Style alias gaya rupiah dalam mengarungi perdagangan kembali terlihat, membalikkan keadaan di menit-menit akhir, hingga berakhir di level Rp 14.980/US$ menguat 0,33% di pasar spot, melansir data Refinitiv.


Dengan penguatan tersebut, rupiah bahkan menjadi juara atau yang terbaik di Asia, dimana mayoritas mata uang utama mengalami pelemahan

Berikut pergerakan dolar AS melawan mata uang utama Asia hingga pukul 15:03 WIB.



Saat memberikan paparan Perkembangan Ekonomi Terkini pagi tadi, Gubernur Perry mengatakan bahwa rupiah berpeluang menguat pada perdagangan hari ini. Bahkan Perry memperkirakan dolar AS bisa didorong ke bawah Rp 15.000.

"Hari ini banyak berita positif yang bisa membawa rupiah bergerak di bawah Rp 15.000/US$. Seperti di AS, sejumlah wilayah akan dibuka kegiatan ekonominya. Juga pernyataan anggota The Fed (The Federal Reserve. bank sentral AS) bahwa ekonomi AS akan membaik pada semester II meski semester I mengalami resesi. Juga harga minyak yang meningkat," jelas Perry dalam konferensi pers Perkembangan Ekonomi Terkini.



Meski demikian ada sedikit ganjalan bagi rupiah, Gubernur Perry masih menegaskan jika rupiah akan berada di kisaran Rp 15.000/US$ di akhir tahun. Padahal pekan lalu, rupiah sudah menyentuh level Rp 14.825/US$. Gubernur Perry mengatakan dalam jangka pendek rupiah memang akan naik turun dipengaruhi faktor teknikal, dan perkembangan situasi global.

Rupiah di Rp 15.000/US$ di akhir tahun yang diungkapkan oleh Perry memberikan dampak psikologis di pasar, para investor tentunya melihat jika rupiah kembali menguat tidak akan jauh dari level tersebut.

Selain itu, BI juga mengatakan jika pertumbuhan ekonomi tahun ini akan lebih rendah dari perkiraan sebelumnya.

"Dampak dari penanganan Covid-19 mulai mempengaruhi berbagai kegiatan ekonomi. Konsumsi, investasi, ekspor-impor. Semula kami perkirakan Maret belum kena," papar Perry dalam konferensi pers Perkembangan Ekonomi Terkini, Rabu (6/5/2020).

"Semula konsumsi kami kira bisa tumbuh 4,4%, ternyata konsumsi sudah tidak setinggi yang kami perkirakan, hanya tumbuh 2,8%. Demikian juga investasi, yang semula kami perkirakan 2,4% ternyata 1,7%. Artinya, social distancing telah mempengaruhi pendapatan masyarakat, konsumsi, serta aktivitas produksi dan investasi dunia usaha," tambahnya.

Dengan realisasi kuartal I-2020 yang jauh di bawah perkiraan, Perry mengakui bahwa proyeksi pertumbuhan ekonomi sepanjang 2020 akan berubah. Ada kemungkinan pertumbuhan ekonomi tahun ini di bawah 2,3%.

BI memperkirakan ekonomi kuartal II-2020 akan tumbuh 0,4%, kuartal II-2020 tumbuh 1,2%, dan kuartal IV-2020 tumbuh 3,1%. "Keseluruhan tahun lebih rendah dari 2,3%," ujar Perry.

Dalam beberapa kali kesempatan saat Perry memaparkan Perkembangan Ekonomi Terkini, rupiah selalu merespon dengan menguat. "Magis" Perry kembali terbukti pada hari ini, rupiah menguat ke bawah Rp 15.000/US$.

[Gambas:Video CNBC]



Rupiah Stabil Meski Ekonomi Indonesia Terpuruk
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading