Analisis Teknikal

Rupiah Semakin Dicintai, Siap Menguat ke Bawah Rp 15.000/US$!

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
06 May 2020 08:40
Indonesian rupiah banknotes are counted at a money changers in Jakarta, Indonesia April 25, 2018. REUTERS/Willy Kurniawan
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah melawan dolar Amerika Serikat (AS) kembali menguat pada perdagangan Selasa (5/5/2020) kemarin, meski pertumbuhan ekonomi Indonesia nyungsep di triwulan I-2020.

Rupiah berakhir di level Rp 15.030/US$ atau menguat 0,13% kemarin, setelah sebelumnya sempat melemah mendekati Rp 15.100/US$.

Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia (produk domestic bruto/PDB) triwulan I-2020 tumbuh 2,97% secara year-on-year (YoY), menjadi pertumbuhan yang terendah sejak triwulan IV-2001.


Rilis tersebut jauh di bawah konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan ekonomi domestik tumbuh 4,33% YoY.

Masih mampu menguatnya rupiah meski pertumbuhan ekonomi nyungsep menunjukkan penguatan yang terjadi sejak bulan April bukan merupakan hasil spekulasi, tetapi rupiah perlahan kembali "dicintai". Hal tersebut tercermin dari hasil survei 2 mingguan yang dilakukan oleh Reuters.



Survei dua mingguan yang dilakukan Reuters menunjukkan para pelaku pasar mulai mengurangi posisi short (jual) rupiah sejak awal April. Survei tersebut konsisten dengan pergerakan rupiah yang mulai menguat sejak awal April.

Hasil survei terbaru yang dirilis Kamis (30/4/2020) pekan lalu menunjukkan angka 0,58, turun jauh dari rilis sebelumnya 16 April sebesar 0,86. Angka tersebut menunjukkan penurunan dalam tiga survei beruntun, sejalan dengan penguatan rupiah di bulan April.

Survei dari Reuters tersebut menggunakan rentang -3 sampai 3. Angka positif berarti pelaku pasar mengambil posisi long (beli) terhadap dolar AS dan short (jual) terhadap rupiah, begitu juga sebaliknya.

Semakin rendahnya angkat positif di hasil survei tersebut menunjukkan pelaku pasar semakin menurunkan posisi long dolar AS, yang berarti perlahan-lahan rupiah kembali diburu pelaku pasar.

Sebelum terjadi pandemi penyakit virus corona (Covid-19), rupiah merupakan favorit pelaku pasar. Hasil survei Reuters tersebut selalu menunjukkan angka minus (-) yang berarti pelaku pasar mengambil posisi short dolar AS dan long rupiah.

Rupiah bahkan disebut menjadi kesayangan pelaku pasar oleh analis dari Bank of Amerika Merryl Lycnh (BAML) saat itu.

"Salah satu mata uang yang saya sukai adalah rupiah, yang pastinya menjadi 'kesayangan' pasar, dan ada banyak alasan untuk itu" kata Rohit Garg, analis BAML dalam sebuah wawancara dengan CNBC International Selasa (21/1/2020).

Pada hari ini, Rabu (6/6/2020), Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo akan memaparkan Perkembangan Ekonomi Terkini, dan sering kali direspon dengan menguat oleh rupiah. Sebabnya, Gubernur Perry selalu menebar optimisme, dan hal tersebut bisa kembali terjadi hari ini.



Analisis Teknikal

Meski menguat Selasa kemarin, tetapi rupiah masih tertahan di atas Rp 15.000/US$ menjadi level psikologis yang mempengaruhi pergerakan rupiah.
Jika berhasil menembus konsisten ke bawahnya, rupiah berpeluang menguat ke Rp 14.930/US$. Support (tahanan bawah) selanjutnya jika level tersebut dilewati adalah Rp 14.835/US$.

Sementara jika tertahan di atas level psikologis, rupiah berisiko melemah melihat dari indikator stochastic pada grafik harian yang berada di level jenuh jual (oversold) dalam waktu yang cukup lama.

idrGrafik: Rupiah (USD/IDR) Harian
Foto: Refinitiv


Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah oversold (di bawah 20), maka suatu harga suatu instrumen berpeluang berbalik naik. Dalam hal ini, USD/IDR berpeluang naik, yang artinya dolar AS berpeluang menguat setelah stochastic mencapai oversold.

Resisten (tahanan atas) terdekat berada di kisaran Rp 15.090 -15.100/US$ yang merupakan Fibonnaci Retracement 50%. Resisten tersebut sukses menahan pelemahan rupiah kemarin, dan akhirnya berbalik menguat.

Fibonnaci Retracement tersebut ditarik dari level bawah 24 Januari (Rp 13.565/US$) lalu, hingga ke posisi tertinggi intraday 23 Maret (Rp 16.620/US$).
Selama tertahan di bawah Fib. 50% tersebut, ke depannya peluang penguatan rupiah masih terbuka.

[Gambas:Video CNBC]





TIM RISET CNBC INDONESIA


(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading