Wah, BI Guyur Ratusan Triliun Agar Dolar Tak Sentuh Rp 17.000

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
06 May 2020 13:04
Perry Warjiyo, Bank Indonensia.
Jakarta, CNBC Indonesia - Ledakan pandemi virus corona (COVID-19) sempat membuat pasar keuangan panik. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sempat tertekan dalam.

Bank Indonesia (BI) sebagai penanggung jawab nilai tukar rupiah, melakukan intervensi mati-matian agar dolar tidak menembus Rp 17.000.

Gubernur BI Perry Warjiyo, mengatakan pada sekitar Maret 2020 lalu, dolar sempat mau 'menendang' ke Rp 17.000, akibat investor asing melakukan aksi jual surat utang negara (SUN) milik pemerintah Rp 160 triliun-Rp 170 triliun.


Untuk menahan pelemahan rupiah, Perry mengatakan, BI menguras cadangan devisa hingga US$ 7 miliar atau Rp 105 triliun. Karena itu cadangan devisa di akhir Maret 2020 berada di posisi US$ 121 miliar, turun US$ 9,4 miliar dibandingkan bulan sebelumnya.



"Ini kami buka supaya masyarakat paham, tidak minta di-terima kasih. Jadi ingat, Maret itu kurs memang melemah secara cepat," kata Perry dalam rapat di Gedung DPR, Rabu (6/5/2020).

Tak hanya intervensi seratus triliun lebih di pasar spot, BI juga membeli SUN yang dijual asing hingga Rp 166,2 triliun. Ini dilakukan agar nilai SUN pemerintah tetap terjaga, dan tidak dijual oleh investor sehingga nilai tukar tidak melemah drastis.

"Stabilitas nilai tukar tugas BI, mohon dipahami kami gunakan seluruh resource biar dolar tidak Rp 17.000 dan sekarang sudah di bawah Rp 15,000. Tugas kami stabilkan dan beban COVID-19 tidak timbulkan teknan krisis dan saat yang sama kita beli SBN (Surat Berharga Negara) Rp 166 triliun supaya yield tidak meroket ke 10%," papar Perry.

[Gambas:Video CNBC]




(wed/wed)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading