Rupiah Malah Melemah Saat BI Prediksi ke Bawah Rp 15.000/US$

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
06 May 2020 12:19
rupiah detik
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) hingga pertengahan perdagangan Rabu (6/5/2020). Padahal Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memprediksi rupiah bisa ke bawah Rp 15.000/US$ hari ini.

Begitu perdagangan hari ini dibuka, rupiah langsung melemah 0,13%. Depresiasi semakin membesar hingga 0,43% di Rp 15.095/US$ yang menjadi level terlemah intraday.

Posisi rupiah sedikit membaik, berada di level Rp 15.050/US$ melemah 0,13% pada pukul 12:00 WIB di pasar spot, melansir data Refinitiv. 


Saat memberikan paparan Perkembangan Ekonomi Terkini secara virtual, Gubernur Perry mengatakan bahwa rupiah berpeluang menguat pada perdagangan hari ini. Bahkan Perry memperkirakan dolar AS bisa didorong ke bawah Rp 15.000.

"Hari ini banyak berita positif yang bisa membawa rupiah bergerak di bawah Rp 15.000/US$. Seperti di AS, sejumlah wilayah akan dibuka kegiatan ekonominya. Juga pernyataan anggota The Fed (The Federal Reserve. bank sentral AS) bahwa ekonomi AS akan membaik pada semester II meski semester I mengalami resesi. Juga harga minyak yang meningkat," jelas Perry dalam konferensi pers Perkembangan Ekonomi Terkini.

Tetapi nyatanya, rupiah malah melemah hingga pertengahan perdagangan hari ini, meski memang 'style" rupiah dalam mengarungi perdagangan yakni melemah nyaris sepanjang perdagangan, sebelum bangkit hingga berbalik menguat di menit-menit akhir.

Namun demikian ada sedikit ganjalan bagi rupiah untuk menguat, Gubernur Perry masih menegaskan jika rupiah akan berada di kisaran Rp 15.000/US$ di akhir tahun. Padahal pekan lalu, rupiah sudah menyentuh level Rp 14.825/US$. Gubernur Perry mengatakan dalam jangka pendek rupiah memang akan naik turun dipengaruhi faktor teknikal, dan perkembangan situasi global. 



Rupiah di Rp 15.000/US$ di akhir tahun yang diungkapkan oleh Perry memberikan dampak psikologis di pasar, para investor tentunya melihat jika rupiah kembali menguat tidak akan jauh dari level tersebut.

Selain itu, BI juga mengatakan jika pertumbuhan ekonomi tahun ini akan lebih rendah dari perkiraan sebelumnya.

"Dampak dari penanganan Covid-19 mulai mempengaruhi berbagai kegiatan ekonomi. Konsumsi, investasi, ekspor-impor. Semula kami perkirakan Maret belum kena," papar Perry dalam konferensi pers Perkembangan Ekonomi Terkini, Rabu (6/5/2020).

"Semula konsumsi kami kira bisa tumbuh 4,4%, ternyata konsumsi sudah tidak setinggi yang kami perkirakan, hanya tumbuh 2,8%. Demikian juga investasi, yang semula kami perkirakan 2,4% ternyata 1,7%. Artinya, social distancing telah mempengaruhi pendapatan masyarakat, konsumsi, serta aktivitas produksi dan investasi dunia usaha," tambahnya.


Dengan realisasi kuartal I-2020 yang jauh di bawah perkiraan, Perry mengakui bahwa proyeksi pertumbuhan ekonomi sepanjang 2020 akan berubah. Ada kemungkinan pertumbuhan ekonomi tahun ini di bawah 2,3%.

BI memperkirakan ekonomi kuartal II-2020 akan tumbuh 0,4%, kuartal II-2020 tumbuh 1,2%, dan kuartal IV-2020 tumbuh 3,1%. "Keseluruhan tahun lebih rendah dari 2,3%," ujar Perry.

Dalam beberapa kali kesempatan saat Perry memaparkan Perkembangan Ekonomi Terkini, rupiah selalu merespon dengan menguat. Namun, hingga pertengahan perdagangan hari ini "magis" Perry masih belum nampak, meski tidak menutup kemungkinan rupiah akan berbalik menguat di menit-menit akhir perdagangan, seperti "style" sebelumnya.

TIM RISET CNBC INDONESIA 

[Gambas:Video CNBC]





(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading