'Dihajar' Luar-Dalam, Rupiah Terkapar di Rp 15.050/US$

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
04 May 2020 12:28
Dollar AS - Rupiah (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah merosot tajam melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (4/5/2020). Memburuknya sentimen pelaku pasar akibat perkembangan di luar dan dalam negeri membuat rupiah tertekan.

Begitu perdagangan hari ini dibuka, rupiah langsung melemah 0,74% di Rp 14.935/US$. 1 Jam kemudian, rupiah merosot lebih dari 2 kali lipat sebesar 1,59% di Rp 15.060/US$ yang menjadi level terlemah intraday hingga siang ini. Posisi rupiah sedikit membaik, berada di level Rp 15.050/US$ atau melemah 1,52% pada pukul 12:00 WIB.

Pelemahan tajam rupiah pada hari ini sebenarnya bisa dimaklumi mengingat sebelumnya sudah membukukan quattrick alias penguatan empat pekan beruntun melawan dolar AS.


Dengan quattrick tersebut, rupiah tentu saja juga menguat sepanjang bulan April. Tidak tanggung-tanggung, penguatan Mata Uang Garuda mencapai 9,05%, dan membukukan kinerja bulanan terbaik sejak Desember 2008, saat itu rupiah 9,21%.



Penguatan tersebut tentunya memicu aksi ambil untung (profit taking) yang membuat rupiah melemah. Atau ada juga aksi beli dolar AS yang nilainya tentunya jauh lebih rendah dibandingkan awal bulan lalu. Apalagi sentimen pelaku pasar sedang memburuk, sehingga posisi dolar AS lebih menguntungkan lagi.

Memburuknya sentimen pelaku pasar terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan bisa saja mengenakan bea masuk impor akibat cara penanganan virus corona yang dilakukan China sehingga menjadi pandemi global.

Hal ini dikatakan Trump dalam konferensi pers dengan wartawan di Gedung Putih, Kamis (30/4/2020) waktu setempat. "Bisa saja melakukan sesuatu dengan tarif," katanya sebagaimana dikutip dari AFP, Jumat (1/5/2020).

Selain itu, Trump juga menuduh virus corona berasal dari Institut Virologi Wuhan, sebuah laboratorium di China. Bahkan ia mengatakan memiliki kepercayaan sangat tinggi.

"Ya, ya saya lihat [bukti]," katanya. "Saya tidak bisa memberi tahu Anda tentang ini. Saya tidak diizinkan memberi tahu kepada Anda [wartawan] soal ini."

Memburuknya sentimen pelaku pasar terlihat dari rontoknya bursa saham di hari Jumat, dan kemungkinan berpengaruh juga di awal pekan ini. Pasar keuangan Indonesia libur Hari Buruh pada Jumat (1/5/2020) pekan lalu, sehingga baru akan merespon pada hari ini.



Masih belum cukup tekanan dari luar negeri, data ekonomi dari dalam negeri juga memberikan pukulan bagi rupiah. IHS Markit melaporkan Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia di angka 27,5. Jauh menurun dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 43,5 dan menjadi yang terendah sepanjang pencatatan PMI yang dimulai sejak April 2011.

Indeks dari Markit menggunakan angka 50 sebagai batas, di bawah 50 artinya kontraksi, sementara di atas berarti ekspansi. Data terbaru tersebut menunjukkan kontraksi sektor manufaktur Indonesia yang semakin dalam, akibatnya kinerja rupiah semakin terpuruk. Menurut Markit kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam rangka memerangi Covid-19 menjadi penyebab kontraksi tersebut.

Sementara itu Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pada April 2020 terjadi inflasi sebesar 0,08%. Adapun secara tahunan inflasi berada di 2,67%.

Dari 90 kota, BPS melaporkan 39 kota mengalami inflasi dan 51 kota terjadi deflasi.

"Pergerakan inflasi ini tidak biasa dengan pola sebelumnya, tahun lalu masuk Ramadan dan jatuh pada Mei inflasi meningkat tahun ini justru melambat," kata Kepala BPS Suhariyanto, Senin (4/5/2020).

Situasi Covid-19 ini yang menurut Suhariyanto menyebabkan pola tidak biasa. Permintaan harusnya meningkat apalagi memasuki bulan puasa dan Idul Fitri.

Rendahnya inflasi tersebut menjadi salah satu indikasi penurunan daya beli masyarakat yang menurun, akibat banyaknya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) serta penerapan PSBB di beberapa wilayah Indonesia. Virus corona terus menunjukkan dampak buruknya ke perekonomian yang memberikan tekanan tambahan bagi rupiah hari ini.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]





(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading