Kabar Pasar

583 Ribu Debitur Leasing Minta Relaksasi, Traffic Tol Drop

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
29 April 2020 08:40
Ilustrasi foto bursa efek Indonesia
Jakarta, CNBC Indonesia - Asa akan pulihnya kembali perekonomian mengemuka setelah negara-negara maju mewacanakan untuk mengendurkan karantina wilayah dan membuka kembali perdagangan. Sentimen ini menjadi direspons positif pasar.

Katalis ini turut mendongkrak laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,36% ke posisi 4.529,55 pada penutupan perdagangan Selasa kemarin (28/4/2020) dengan nilai transaksi Rp 6,2 triliun. Kendati menguat, aksi jual pelaku pasar masih belum mereda. Kemarin, asing mencatatkan aksi jual bersih Rp 1,1 triliun di seluruh pasar.

Sebelum memulai perdagangan Rabu (29/4/2020), cermati dulu aksi dan peristiwa emiten berikut ini yang dihimpun dalam pemberitaan CNBC Indonesia:


1. 583 Ribu Debitur Leasing Ajukan Relaksasi Kredit
Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) mengatakan, sejak masyarakat diperbolehkan restrukturisasi kredit, ada 583 ribu debitur yang mengajukan restrukturisasi kepada perusahaan pembiayaan.

Ketua APPI Suwandi Wiratno mengatakan, 183 perusahaan pembiayaan atau leasing terus memonitor debitur yang mengajukan restrukturisasi, terdapat kurang lebih 583 ribu debitur yang mengajukan restrukturisasi.

"Dengan jumlah kontrak permohonan yang masih proses kurang lebih 358 ribu dan sudah disetujui sebanyak 203 ribu. Situasi ini terus berjalan dan kami terus melakukan pendataan setiap hari, dan melaporkannya kepada OJK [Otoritas Jasa Keuangan]," jelas Suwandi dalam video conference, Selasa (28/4/2020).

2.Traffic Jasa Marga Ambles 35%, THR & Remunerasi Aman!
Operator jalan tol PT Jasa Marga Tbk (JSMR) memprediksi traffic tol akan turun 35% akibat adanya pembatasan transportasi untuk menurunkan penyebaran Covid-19. Penurunan ini terjadi untuk seluruh tol yang dioperasikan Jasa Marga.

VP Corcom Jasa Marga Dwimawan Heru mengatakan penurunan traffic ini terjadi sebagai dampak dari turunnya mobilitas manusia secara drastis karena kebijakan yang diambil pemerintah untuk menangani Covid-19 di Indonesia. Namun demikian perusahaan mengharapkan akan segera terjadi recovery usai kebijakan tersebut dicabut.

"Traffic memang turun persentase beragam mulai dari Jakarta-Cikampek, Trans Jawa dan [tol] di luar Jawa. Tapi secara umum 35% turunnya," kata Dwimawan dalam diskusi dengan CNBC Indonesia TV, Selasa (28/4/2020).



3.Selain Efek Corona, Saham Tekstil Tak Menarik karena Utang
Saham-saham emiten tekstil di Bursa Efek Indonesia masih belum menarik untuk dikoleksi di tengah pandemi virus Corona (Covid-19). Ketergantungan permintaan dari global yang sedang terhambat akibat pandemi dan utang besar menjadi pertimbangannya.

Saham PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) misalnya, melemah 1,3%, sepekan terakhir turun 3,18% menjadi Rp 152/saham. Diikuti melemahnya PT Golden Flower Tbk (POLU) turun 6,8%, sepekan anjlok 28,89% menjadi Rp 960/saham.

Beberapa saham lainnya justru bergerak stagnan seperti PT Trisula Textile Industries Tbk (BELL) stagnan, sedangkan dalam sepekan terakhir terkoreksi 0,72% menjadi Rp 690/saham. Sedangkan, saham PT Pan Brothers Tbk (PBRX) juga bergerak stagnan, sementara selama sepekan melemah 8,11% menjadi Rp 170/saham.

VP Equity Research RHB Sekuritas, Christopher Andre Benas menuturkan, emiten di sektor tekstil pada tahun ini mengalami tantangan yang cukup berat, permintaan dari peritel global yang melemah akibat pandemi dan beberapa toko yang harus tutup tentunya akan berimbas negatif terhadap pendapatan.

4.Efek Covid-19, 2 Anak Usaha Perusahaan TP Rahmat Tunda IPO
Triputra Group terpaksa menunda rencananya untuk mendivestasikan dua anak usahanya di pasar modal tahun ini akibat pandemi Covid-19 yang berdampak pada kondisi pasar modal. Pelaksanaan aksi korporasi ini akan ditunda hingga tahun depan.

CEO Triputra Group Hadi Kasim mengatakan secara grup perusahaan ini memang tengah mempersiapkan anak-anak usahanya untuk melakukan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) hingga empat tahun ke depan. Namun dengan kondisi saat ini tampaknya rencana tersebut harus ditunda.

"Yang tahun ini tadinya kemungkinan besar rencananya sawit selain DSN [Dharma Satya Nusantara] itu akan IPO. Kemudian berikutnya manufacturing yang akan IPO tapi dengan Covid-19 ini akan kami tunda," kata Hadi dalam diskusi dengan CNBC Indonesia TV, Selasa (28/4/2020).

5.Lewat Private Placement, RI Terbitkan SUN Rp 62,6 T
Pemerintah RI melalui Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menerbitkan Surat Utang Negara (SUN) dengan jumlah total sebesar Rp 62,62 triliun. SUN ini diterbitkan dengan mekanisme private placement, bukan lelang sebagaimana biasanya.

Adapun, penawaran surat utang dengan cara private placement, adalah cara penjualan surat utang yang dilakukan secara bilateral dengan ketentuan dan persyaratan sesuai kesepakatan.

Dari data DJPPR Kemenkeu, SUN yang diterbitkan ini terdiri dari tiga seri obligasi negara. Pertama, seri FR0084 dengan total nilai Rp 37,87 triliun dengan kupon 7,25%. Untuk seri ini akan jatuh tempo pada 15 Februari 2026.



6.Soal Kinerja Kuartal I Adaro, Boy Thohir: So Far, Oke!
Direktur Utama PT Adaro Energy Tbk (ADRO) Garibaldi 'Boy' Thohir mengatakan kinerja perusahaan di tengah pandemi virus corona (Covid-19) dinilai masih aman. Ia bersyukur, kondisi perusahaan masih dapat bertahan dalam situasi sulit saat ini.

"Alhamdulillah masih produksi, karena batu bara merupakan sektor strategis. Walaupun work from home (WFH), kan listrik harus tetap jalan. Jadi overall memang terjadi ada penurunan, tapi relatif oke dibandingkan dengan sektor lain," kata Boy Thohir, dalam perbincangan dengan CNBC Indonesia, Senin (27/4/2020).

Boy yang juga kakak dari Menteri BUMN Erick Thohir ini mengatakan, di masa sulit sekarang, penting adanya efisiensi-efisiensi yang dilakukan perusahaan untuk dapat bertahan, sehingga perusahaan dapat berjalan dengan baik.

7.Dampak Corona, Laba HSBC Anjlok 48% di Kuartal I-2020
Bank yang mengklaim punya aset terbesar di Eropa, HSBC, mencatat penurunan laba sebelum pajak pada kuartal I tahun ini sebesar 48% year on year (YoY) menjadi senilai US$ 3,23 miliar atau setara dengan Rp 50 triliun (asumsi kurs Rp 15.500/US$).

Adapun pendapatan perusahaan anjlok 5,1% menjadi US$ 13,69 miliar atau setara dengan Rp 212,20 triliun dibandingkan kuartal I tahun lalu.

Catatan ini melesat lebih rendah dari perkiraan para analis, di mana Morgan Stanley memproyeksikan laba sebelum pajak perusahaan turun 35,7% YoY menjadi US$ 3,99 miliar. Sementara itu, nilai laba sebelum pajak ini juga di bawah proyeksi analis yang dikompilasi HSBC yakni rata-rata di level US$ 3,67 miliar.


[Gambas:Video CNBC]




(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading