Bursa RI Ditinggalkan, Ini Alasan Asing Bawa Kabur Rp 18 T

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
28 April 2020 11:40
update bursa
Jakarta, CNBC Indonesia - Pelaku pasar asing mencatatkan aksi jual bersih di pasar modal di tengah kondisi pandemi yang penuh ketidakpastian. Sejak awal tahun hingga 27 April 2020, investor asing tercatat membukukan aksi jual bersih Rp 18,05 triliun.

Kondisi ini, menjadi salah satu tekanan yang menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan terkoreksi 28,36% sejak awal tahun. Hampir seluruh bursa saham dunia mengalaminya.

Misalnya saja di Asia Tenggara, di Filipina, bursa saham anjlok 30,26%. Demikian halnya dengan bursa Singapura dan Malaysia dan Thailand, yang ambles masing-masing sebesar 20,67%, 13,39% dan 19,97%.


VP Equity Research RHB Sekuritas, Christopher Andre Benas menjelaskan, arus modal keluar dari pasar saham cukup deras lantaran pasar saham di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Eropa lebih banyak mendapatkan stimulus dari pemerintah.

Misalnya, di Negeri Abang Sam, pemerintah berani membeli obligasi dengan rating sampah alias junk, ini dilakukan untuk mencegah terjadinya krisis kredit.

"Pasar di negara AS, Eropa lebih banyak stimulus dari pemerinyah, wajar investor keluar dari emerging karena risiko debt lokal lebih beriisko dibanding pasar negara maju," kata Christopher, dalam wawancara dengan CNBC Indonesia, Selasa (28/4/2020).



Salah satu katalis yang sedang dinantikan pelaku pasar, katanya, saat ini adalah laporan kinerja keuangan emiten pada triwulan pertama 2020. Di sisi lain, di sejumlah negara maju, pasar sedang mendengungkan wacana pembukaan kembali pasar untuk menggerakkan aktivitas perekonomian yang sempat lumpuh karena pembatasan sosial dan karantina wilayah.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa, Laksono Widodo mengatakan, volatilitas di pasar saham cenderung tinggi ketika terjadi krisis ekonomi. Investor global cenderung memilih aset safe haven seperti saham-saham di bursa Wall Sreet atau memindahkannya ke aset surat utang.

"Kita sudah alami krisis semacam ini berkali-kali. Kita lihat behavior dari investor asing itu memang mereka dalam suatu kondisi yang sifatnya mereka anggap kritis, semua lari ke safe heaven. Makanya kami lihat selalu menimbulkan volatilitas tinggi kalau terjadi krisis," kata Laksono, pekan lalu.

Laksono menambahkan, jika dibandingkan dengan kondisi penurunan pasar saham pada 2008 yang dipicu oleh subprime mortgage, pasar saham Indonesia jatuh sampai 50%. Namun, di masa pandemi ini, penurunan ini sedikit lebih rendah karena adanya peran investor domestik.

"Mereka berfungsi sebagai shock breaker saat terjadi kejutan negatif di pasar modal. Jadi memang situasinya 2008 dan 2020 ini cukup berbeda karena partisipasi lokal investor," ujarnya.


[Gambas:Video CNBC]




(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading