Corona Diproyeksi Memuncak, Bursa Asia Berakhir di Zona Hijau

Market - Haryanto, CNBC Indonesia
27 April 2020 16:37
Bursa Asia

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Asia pada perdagangan Senin ini (27/4/2020) menguat di tengah tanda-tanda bahwa pandemi virus corona (Covid-19) diprediksi sudah berada di puncaknya, sehingga sejumlah negara mulai memberlakukan pelonggaran pembatasan (lockdown).

Data perdagangan mencatat, bursa saham di China daratan menguat tipis, dengan indeks Shanghai Composite naik 6,07 poin atau 0,25% menjadi 2.815,49, sedangkan Shenzhen naik 1,12 poin atau 0,06% pada 1.738,05. Sementara pasar saham di Hong Kong indeks Hang Seng menguat 448,81 poin atau 1,88% ke 24.280,14 pada penutupan perdagangan.

Pasar saham Jepang memimpin kenaikan di antara kawasan Asia lainnya. Pada perdagangan awal pekan ini (27/4/2020) indeks Nikkei 225 melonjak 521,22 poin atau 2,71% menjadi 19.783,22, sedangkan indeks Topix melesat 1,83% menjadi 1.447,25.

Sentimen pelonggaran karantina wilayah berhasil memberikan aura positif pada pasar modal Asia.


Negara pertama yang melonggarkan lockdown ialah Italia yang sempat menjadi negara dengan kasus terparah dan telah melakukan karantina wilayah sejak 9 Maret lalu. Namun, seiring dengan menurunnya kasus harian di Negara Pizza tersebut, pemerintah akan memutuskan untuk melonggarkan pembatasan secara bertahap mulai 4 Mei nanti.

Berikutnya adalah Negeri Kincir Angin, Belanda yang akan membuka lockdown pada 11 Mei nanti. Namun, Perdana Menteri Mark Rutte, langkah-langkah ketat tetap akan dilakukan. Murid-murid akan diizinkan ke sekolah meski jam pelajaran masih dipangkas. Sekolah menengah atas akan diizinkan beroperasi di 1 Juni.

Di Jepang, penguatan indeks Nikkei terdorong setelah pengumuman kebijakan moneter Bank of Japan (BoJ) pada hari Senin yang mengatakan bahwa BoJ akan melakukan program pembelian aset (quantitative easing/QE) dengan nilai tak terbatas guna meredam dampak penyebaran penyakit virus corona (Covid-19) ke perekonomian.


BoJ juga mempertahankan suku bunga jangka pendek pada minus 0,1% serta mempertahankan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang 10-tahun di level 0%.

Saham-saham pendorong penurunan indeks Nikkei 225 di antaranya saham Advantest Corp melonjak 8,4% setelah perusahaan pemasok peralatan pengujian chip memperkirakan kenaikan laba operasional 14,2% tahun-ke-tahun (yoy) untuk kuartal April-Juni. Sementara saham perusahaan pembuat industri robot Fanuc Corp menguat 12%.

 

 

Dari kawasan Asia lainnya, bursa saham Korea Selatan indeks Kospi juga ditutup terapresiasi 1,79% pada 1.922,77. Kenaikan ini di tengah harapan lebih banyak dukungan kebijakan setelah pemerintah Korea Selatan akan meningkatkan paket bantuan menjadi 135 triliun won dari yang sebelumnya 100 triliun won untuk membantu industri-industri utama terdampak Covid-19.

Sektor keuangan memimpin lonjakan indeks Kospi, dengan saham Shinhan Financial, naik 10,5%, sementara saham Hana Financial melonjak 16,9%.

Sementara pasar saham di Australia, indeks acuan (benchmark) S&P/ASX 200 menguat 78,80 poin atau 1,50% menjadi 5.321,40. Saham Evolution Mining, Regis Resources, dan Northern Star Resources naik hampir 3%.

Dari bursa saham Tanah Air, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membukukan penguatan 17,08 poin atau 0,38% ke level 4.513,14, dengan catatan nilai transaksi sebesar Rp 5,34 triliun. Saham-saham yang menguat sebanyak 170 saham, sementara yang turun 216 saham dan stagnan 130.

Sementara fokus pasar sekarang ke pertemuan bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve AS/The Fed) yang berakhir pada Rabu mendatang dan pertemuan bank sentral Eropa (European Central Bank/ECB) pada Kamis, setelah BoJ meningkatkan nilai pembelian obligasi korporasi untuk membantu meredakan ketatnya pendanaan perusahaan-perusahaan.  


TIM RISET CNBC INDONESIA



[Gambas:Video CNBC]

 




(har/har)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading