Ikuti Harga Minyak, Dow Jones Dibuka Tergelincir 500 Poin

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
20 April 2020 20:56
A trader passes by the post, where Smartsheet Inc. hosts it's IPO, on the floor of the New York Stock Exchange (NYSE) in New York, U.S., April 27, 2018. REUTERS/Brendan McDermid

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Amerika Serikat (AS) anjlok lebih dari 500 poin pada pembukaan perdagangan Senin (20/4/2020), menyusul gonjang-ganjing harga minyak mentah acuan Negara Adidaya tersebut.

Indeks Dow Jones Industrial Average tergerus 531 poin pada pembukaan perdagangan pukul 08:30 waktu setempat (21:30 WIB), dan selang 20 menit kemudian surut menjadi 346,57 poin (-1,43%) ke 23.895,92. Indeks Nasdaq turun 53,1 poin (-0,61%) ke 8.597,04 dan S&P 500 tertekan 30,98 poin (-1,08%) ke 2.843,58.

Koreksi di bursa saham itu mengekor turunnya harga minyak mentah yang suplainya membanjir karena tangki penyimpanan di AS telah penuh sementara permintaan anjlok akibat wabah COVID-19. Dus, harga pun diobral.


Harga kontrak berjangka (futures) minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei sempat anjlok 36% hingga menyentuh level US$ 11 per barel, sedangkan kontrak pengiriman Juni drop 8% ke US$ 22.78 per barrel dan pengiriman Juli tertekan 5%.

"Pergerakan pasar minyak benar-benar tak bisa dipercaya saat ini ketika kita secara harfiah kehabisan tangki penyimpanan," tutur Peter Boockvar, Kepala Divisi Investasi Bleakley Advisory Group, dalam laporan risetnya, yang dkutip CNBC International.

Awal bulan ini analis Goldman Sachs mengingatkan bahwa wabah corona bakal sangat negatif untuk harga minyak dan bakal mengirim harga minyak mentah ke teritori negatif. Bank investasi itu memperkirakan harga minyak Brent bakal lebih terjaga di level US$ 20 per barel tahun ini.

Minyak jenis Brent umumnya dieksploitasi dari lepas pantai di mana kapal tanker penyimpan bisa leluasa menampung produksinya. Sementara itu, minyak jenis WTI diproduksi di daratan sehingga-menurut Goldman Sachs-lebih sulit disimpan dan mudah mengalami oversuplai di pasar.

Fokus di minyak, pelaku pasar mengacuhkan sentimen positif terkait obat COVID-19 yang sempat menerbangkan bursa pada Jumat pekan lalu. Pernyataan Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin soal kian dekatnya kesepakatan dengan Kongres soal paket stimulus kedua juga tak digubris. Padahal, penyelamatan tersebut melibatkan angka US$ 349 miliar.

TIM RISET CNBC INDONESIA


(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading