Dow Futures Melesat Nyaris 800 Poin Sambut Kabar Obat Corona

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
17 April 2020 18:54
Founder and CEO of Zuora, Tien Tzuo, takes part in the company's IPO on the floor of the New York Stock Exchange shortly after the opening bell in New York, U.S., April 12, 2018.  REUTERS/Lucas Jackson

Jakarta, CNBC Indonesia - Kontrak berjangka (futures) indeks saham Amerika Serikat (AS)  menguat nyaris 800 poin menyambut laporan bahwa obat perusahaan farmasi asal AS, Gilead Sciences, cukup efektif mengobati pasien COVID-19.

Dow Jones Industrial Average futures melompat 789 poin, mengindikasikan bahwa indeks acuan bursa saham Negara Adidaya tersebut bakal melonjak 777 poin di pembukaan. Kontrak berjangka S&P 500 naik 2,9% sedangkan kontrak futures Nasdaq 100 naik 2%.

Investor kian optimistis dengan penghentian penyebaran virus Corona strain baru setelah Gedung Putih berencana membuka kembali ekonomi dari pembatasan (lockdown), dan Boeing bakal membuka kembali fasilitas produksinya.


Saham Gilead melonjak lebih dari 13% di sesi pra-pembukaan setelah rumah sakit Chicago merilis laporan bahwa terapi pasien COVID-19 dengan obat Remdesivir menunjukkan hasil yang memuaskan karena membantu pemulihan pasien secara cepat.

"Pengobatan yang efektif adalah hal besar dan bakal menciptakan jalur pembukaan ekonomi dan kembali normalnya aktivitas sosial lebih cepat daripada vaksin," tutur Tom Lee, Kepala Rset Fundstrat Global Advisors sebagaimana dikutip CNBC International.

Studi lain menyebutkan bahwa Remdesivir bisa mengobati virus corona, tetapi dalam skala yang lebih ringan. Namun Gilead sendiri belum resmi mengumumkan bahwa obat produknya itu merupakan obat yang efektif untuk virus corona strain baru tersebut.

Bursa saham AS terhitung bergerak ke Utara sejak 23 Maret setelah temuan pasien baru COVID-19 melandai. Indeks S&P 500 telah melompat lebih dari 25% sedangkan Dow Jones melesat 26,6%. 

Sejauh ini, virus corona strain baru tersebut telah menginfeksi 2 juta orang, dan 650.000 di antaranya adalah kasus di AS. Wabah ini juga memicu kenaikan pengangguran. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan ada 22 juta orang warga AS yang kehilangan pekerjaan selama lockdown berlangsung.

TIM RISET CNBC INDONESIA


(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading