Pieter Tanuri Keluar dari Bank Ina, Salim Jadi Pengendali

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
14 April 2020 17:38
Anthoni Salim

Jakarta, CNBC Indonesia - Pengusaha Pieter Tanuri beserta perusahaan terafiliasi, PT Philadel Terra Lestari mundur dari PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA). Keduanya mundur sebagai pemegang saham pengendali.

Dengan demikian, Pieter beserta perusahaan tak lagi menjadi pengendali terakhir atau ultimate shareholder Bank Ina. Saat ini, ultimate shareholder dipegang oleh pengusaha Anthoni Salim dengan perusahaan terafiliasi PT Indolife Pensiontama.

Direktur Utama Bank Ina Perdana, Daniel Budirahayu mengatakan, transaksi ini telah terjadi pada 18 Maret 2020.

"Tidak ada dampak kejadian, informasi atau fakta material tersebut terhadap kegiatan operasional, hukum, kondisi keuangan atau kelangsungan usaha emiten," kata Daniel, mengacu surat yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia, Selasa (14/4/2020).


Adapun, komposisi pemegang saham bank dengan kode saham BINA ini per 6 Januari 2020 sebelum adanya perubahan ini, PT Indolife Pensiontama menggenggam kepemilikan 22,47% saham, Liontrust S/A NS Asean Financials Fund mempunyai 18,29% saham.

Lainnya, ada PT Samudera Biru memiliki 16,51% saham, DBS Bank Ltd S/S LTLS AS Trustee of NS Financial Fund dengan kepemilikan sebesar 10,49% saham, PT Gaya Hidup Masa Kini 9,98% saham dan PT Philadel Terra Lestari mengantongi 9,64% saham, selebihnya adalah pemegang saham publik dengan porsi kepemilikan 12,62% saham.

Dengan keluarnya pengusaha dan juga pemegang saham Bali United itu, Antoni Salim menjadi pengendali terakhir memiliki porsi kepemilikan saham di atas batas maksimal sebesar 48,96%. Kedua perusahaan lainnya yang juga terafiliasi Grup Salim adalah PT Samudera Biru dan PT Gaya Hidup Masa Kini.

Sebagai informasi saja, masuknya Grup Salim ke Bank Ina melalui proses Penambahan Modal Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue pada 2017 lalu mengingat perseroan naik kelas menjadi Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) II dengan modal inti Rp 1 triliun hingga Rp 5 triliun.

[Gambas:Video CNBC]





(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading