Berbalik Menguat Hampir 1%, Rupiah Kini Juara Asia!

Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
09 April 2020 11:45
Berbalik Menguat Hampir 1%, Rupiah Kini Juara Asia!
Ilustrasi Rupiah (REUTERS/Willy Kurniawan)
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berhasil berbalik menguat di perdagangan pasar spot. Bahkan dolar AS berhasil didorong ke bawah Rp 16.100.

Pada Kamis (9/4/2020) pukul 11:26 WIB, US$ 1 dihargai Rp 16.000. Rupiah menguat 0,93% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.


Kala pembukaan pasar, rupiah melemah tipis 0,03%. Depresiasi rupiah sempat lebih dalam hingga ke 0,41%.

Namun tidak lama kemudian, rupiah berhasil berbalik menguat, Tidak sembarang menguat, tetapi terapresiasi lumayan tebal.

Seperti halnya rupiah, sejumlah mata uang utama Asia juga bisa menyeberang ke jalur hijau. Namun apresiasi 0,93% sudah cukup untuk membikin rupiah menjadi yang terbaik di Asia.

Berikut perkembangan kurs dolar AS terhadap mata uang utama Benua Kuning pada pukul 11:12 WIB:

 


Sebenarnya sejak pagi rupiah sudah menguat di perdagangan Non-Deliverable Forwards (NDF) di luar negeri. Biasanya pasar NDF menjadi semacam panduan, diikuti oleh pasar spot.

Namun ternyata transmisi penguatan rupiah dari NDF ke spot memakan waktu hitungan jam. Penguatan rupiah sejak pagi di pasar NDF baru terwujud di pasar spot jelang tengah hari.

Dini hari tadi, sudah muncul pertanda bahwa risk appetite pelaku pasar bakal meninggi. Bursa saham New York di menguat tajam di mana indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) melesat 3,44%. S&P 500 melejit 3,41%, dan Nasdaq Composite terdongkrak 2,58%.

Keperkasaan Wall Street menunjukkan bahwa investor kembali bernafsu memburu aset-aset berisiko. Akibatnya, arus modal mengalir deras ke pasar keuangan negara-negara berkembang Asia, termasuk Indonesia. Banjir arus modal tersebut membuat mata uang utama Asia menguat di hadapan dolar AS, tidak terkecuali rupiah.

Pasar lega karena penyebaran virus corona alias Coronavirus Desease-2019 (Covid-19) terus melambat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat jumlah pasien corona di seluruh dunia adalah 1.353.361 per 8 April 2020, naik 5,75% dibandingkan sehari sebelumnya.

Meski masih ada kenaikan, tetapi laju tambahan pasien baru terus melambat. Dalam 10 hari terakhir, pertumbuhan pasien baru sudah stabil di kisaran satu digit.



"Fokus utama di benak investor hanyalah kapan puncak dari pandemi ini terjadi? Jika puncak itu sudah terlewati, maka aktivitas ekonomi perlahan bisa dimulai kembali," kata Eric Freedman, Chief Investment Officer di US Bank Wealth Management, seperti dikutip dari Reuters.

Ya, dengan puncak penyebaran corona yang sepertinya sudah dilalui (dengan harapan tidak ada gelombang kedua dan seterusnya), maka aktivitas ekonomi akan pulih secara bertahap. China sudah memberi contoh bagaimana aktivitas ekonomi kembali semarak selepas puncak pandemi dilalui.



TIM RISET CNBC INDONESIA


Pages

Tags

Related Articles
Recommendation
Most Popular