Menguat 4% Hari Ini, IHSG Sudah Melesat 15% Sejak 23 Maret

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
06 April 2020 16:17
Menguat 4% Hari Ini, IHSG Sudah Melesat 15% Sejak 23 Maret
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat start mulus pekan ini. IHSG menjadi salah satu yang terbaik di Asia.

Pada Senin (6/4/2020), IHSG finis di posisi 4.811,827 atau melesat 4.08% dibandingkan penutupan perdagangan akhir pekan lalu. Dengan demikian, IHSG total mencatat penguatan nyaris 15% sejak 23 Maret.

Mengikuti bursa saham utama Asia lainnya, IHSG langsung masuk zona hijau begitu perdagangan dibuka. Apresiasi bursa kebanggaan Tanah Air ini terus bertambah hingga 2,56% mencapai level tertinggi intraday 4.741,894. Total nilai transaksi pada perdagangan hari ini sebesar Rp 7,55 triliun, dengan investor asing melakukan aksi jual bersih Rp 498,78 miliar di pasar reguler dan non-reguler.




Dengan penguatan lebih dari 4%, IHSG menjadi salah satu bursa dengan kinerja terbaik di Asia. Bersama indeks Nikkei Jepang +4,24%. Hanya indeks Shanghai China dan Sensex India yang melemah pada hari ini, sisanya menguat meski tidak sebesar IHSG dan Nikkei.

Nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini yang lebih dari Rp 7,5 triliun pada perdagangan hari ini lebih besar dibandingkan beberapa hari terakhir yang di kisaran Rp 6 triliun. Hal ini bisa memberikan gambaran minat investor ke pasar saham mulai membaik, meski pandemi virus corona (COVID-19) belum menunjukkan tanda-tanda mencapai puncaknya.

Meski demikian, cuaca di Indonesia yang tidak mendukung bagi virus corona memberikan harapan pandemi ini tidak akan separah di Eropa ataupun di Amerika Serikat. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sudah merampungkan penelitian terkait dengan pengaruh cuaca dan iklim dalam penyebaran virus corona (Covid-19).

Penelitian ini melibatkan 11 Doktor di Bidang Meteorologi, Klimatologi dan Matematika, serta didukung oleh Guru Besar dan Doktor di bidang Mikrobiologi dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Kajian itu berdasarkan analisis statistik, pemodelan matematis dan studi literatur tentang Pengaruh Cuaca dan Iklim dalam Penyebaran COVID-19.


Hasilnya Covid-19 mempunyai penyebaran yang optimum pada suhu yang sangat rendah (1-9 °C), dengan kelembapan 60-90%. Sementara Indonesia yang juga terletak di sekitar garis khatulistiwa dengan suhu rata-rata berkisar antara 2730 derajat celcius. Adapun kelembapan udara berkisar antara 70-95%, dari kajian literatur sebenarnya merupakan lingkungan yang cenderung tidak ideal untuk penyebaran COVID-19.

Namun demikian, fakta menunjukkan bahwa kasus gelombang ke-2 Covid-19 telah menyebar di Indonesia sejak awal Maret 2020 yang lalu. Hal tersebut diduga akibat faktor mobilitas manusia dan interaksi sosial yang lebih kuat berpengaruh, daripada faktor cuaca dalam penyebaran wabah Covid-19 di Indonesia.

Hingga hari ini, jumlah kasus COVID-19 di Indonesia sebanyak 2.491, degan 209 meninggal dunia dan 192 orang dinyatakan sembuh.


"Meningkatnya kasus pada gelombang ke dua saat ini di Indonesia tampaknya lebih kuat dipengaruhi oleh pengaruh pergerakan atau mobilitas manusia dan interaksi sosial," kata Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, dalam siaran persnya, Minggu (5/4/2020).

Laporan Tim BMKG-UGM merekomendasikan berdasarkan fakta dan kajian terhadap beberapa penelitian sebelumnya, bahwa apabila mobilitas penduduk dan interaksi sosial ini benar-benar dapat dibatasi, disertai dengan intervensi kesehatan masyarakat, maka faktor suhu dan kelembapan udara dapat menjadi faktor pendukung dalam memitigasi atau mengurangi risiko penyebaran wabah tersebut.

Sementara itu, setelah memicu gejolak di pasar keuangan, dan berdampak buruk di sektor riil, ternyata konsumen Indonesia masih menunjukkan optimisme. Pada Senin (6/4/2020), Bank Indonesia (BI) melaporkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) periode Maret 2020 sebesar 113,8. Konsumen masih pede, karena nilai indeks di atas 100.

Angka indeks di bulan Maret 2020 adalah yang terendah sejak September 2016, meski demikian setidaknya masih ada optimisme di benak konsumen, sehingga belanja tidak akan menurun drastis.


IKK adalah salah satu indikator permulaan (leading indicator) untuk meneropong arah perekonomian ke depan. Ketika konsumen masih yakin dan berniat untuk meningkatkan konsumsi, maka prospek ekonomi akan cerah. Sebaliknya jika konsumen pesimistis maka prospek pertumbuhan ekonomi juga mendung, karena konsumsi rumah tangga menyumbang hampir 60% dari pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

Laporan dari BMKG dan BI memberikan semangat positif di pasar saham, hingga melesat naik di awal pekan ini, meski masih dibayangi penyebaran pandemi COVID-19 hingga risiko resesi global.


TIM RISET CNBC INDONESIA


(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading