Perang Minyak, Trump Sebut Rusia & Arab Saudi Gila

Market - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
04 April 2020 19:38
Perang Minyak, Trump Sebut Rusia & Arab Saudi Gila
Jakarta, CNBC Indonesia - Perang minyak yang terjadi antara Rusia dan Arab Saudi membuat Amerika Serikat (AS) terpukul. Presiden AS Donald Trump bahkan sampai menyebut Rusia dan Arab Saudi gila karena pertarungan minyak yang dilakukan keduanya.

Dalam wawancaran dengan stasiun televisi Fox, Trump mengaku keberatan atas perang harga minyak Rusia dan Arab Saudi. "Benar-benar melukai industri energi AS. Ini adalah pertarungan antara Arab Saudi dan Rusia, dan mereka berdua menjadi gila," tegasnya dikutip dari AFP, Selasa (31/3/2020).

Tidak lama setelah itu, Trump dikabarkan menelepon langsung Presiden Rusia Vladimir Putin. Dalam perbincangan itu, keduanya membahas beberapa hal, di antaranya soal harga minyak.


Dalam pernyataan pers, Gedung Putih menyampaikan pentingnya stabilitas harga minyak di pasar energi global. Trump juga mengatakan akan mengkaji sanksi yang sebelumnya diberikan ke Rusia, yang sebelumnya diberikan pada sejumlah perusahaan asal negeri Beruang Putih itu.


Perang harga minyak antara Rusia dan Arab Saudi diperkirakan masih akan berlangsung lama. Mengutip dari AFP, Arab Saudi mengumumkan bakal menggenjot ekspor minyak mereka menjadi 10,6 juta barel sehari mulai Mei mendatang.

"Pihak kerajaan berencana menaikkan ekspor minyak sebanyak 600 ribu barel sehari mulai Mei, sehingga total ekspor menjadi 10,6 juta barel sehari," ujar seorang pejabat kementerian Arab Saudi.

Arab Saudi yang tidak mau berhenti menggenjot ekspor minyak, menjadikannya sebagai negara eksportir minyak teratas. Ekspor mereka yang semula berlaku di April, lalu ditambah lagi untuk Mei.

Total tambahan sejak mereka mengumumkan rencana tersebut kini menjadi 3,6 juta barel sehari. Angka yang sangat signifikan mengingat kondisi pasar global saat ini dan turunnya harga minyak dunia.

Harga minyak dunia memang sedang menghadapi ujia berat. Mengutip dari Reuters, harga minyak dunia kini berada di level terendahnya sejak 2002 lalu. Anjlok hampir 8%, dipicu oleh kebijakan shutdown atau lockdown beberapa negara. Kebijakan ini diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.

Minyak Brent kini berada di level US$ 22,5 per barel atau merosot 65% dalam setahun ini. Turunnya harga minyak ini pun menghantam beberapa mata uang negara seperti rubel Rusia, peso Meksiko, dan rupiah Indonesia sampai 2%.

[Gambas:Video CNBC]



(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading