Volatilitas Tinggi, IHSG Terkapar Sendirian di Asia

Market - Arif Gunawan & Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
24 March 2020 16:49
IHSG) menutup perdagangan Selasa (24/3/2020) dengan terkoreksi sebesar 1,3% atau 51,9 poin ke level 3.937,63.

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Selasa (24/3/2020) dengan terkoreksi sebesar 1,3% atau 51,9 poin ke level 3.937,63. Angin positif di bursa Asia tidak menghampiri bursa nasional karena kekhawatiran masih meluasnya penularan virus corona.

Pada hari ini, IHSG bergerak dalam volatilitas tinggi. Sempat menguat 3,4% pada sesi pertama ke level 4.120 pukul 09:48, bursa nasional kembali memerah sehingga mengakhiri sesi pertama di level 3.951,483, atau melemah 0,94%.

Pada pembukaan sesi kedua, koreksi terus terjadi hingga IHSG hanya mampu mencapai level tertingginya pada sesi siang tersebut pada 3.980 pada 13:31 WIB atau masih di bawah sesi pembukaannya. Kondisi tidak banyak berubah hingga penutupan sesi kedua.


Berdasarkan data PT Bursa Efek Indonesia (BEI), nilai transaksi tercatat Rp 4,74 triliun pada sesi pertama, dan menjadi Rp 7,76 triliun pada sesi penutupan. Sayangnya, investor asing masih memiliki posisi jual, terlihat dari nilai penjualan bersih (net sell) mereka senilai Rp 666 miliar.


Sementara IHSG hanya menguat di awal perdagangan, tetapi gagal diperatahankan hingga garis garis finish hari ini. IHSG masih bergerak volatil akibat belum kuatnya sentimen pelaku pasar terhadap aset-aset berisiko akibat pandemi virus corona (COVID-19) yang berisiko membawa perekonomian global memasuki resesi.

Koreksi ini terjadi di tengah tren penguatan di bursa Asia yang merespons rencana bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) yang kembali menggelontorkan stimulus moneter dengan pembelian aset atau quantitative easing (QE) guna membaru perekonomian AS menghadapi tekanan dari pandemi virus corona (COVID-19).

Dari pasar Asia, indeks Kospi Korea Selatan memimpin setelah melesat lebih dari 8%, disusul Nikkei Jepang yang menguat lebih dari 7%. Hang Seng Hong Kong dan Shanghai Composite juga menghijau. Tak ketinggalan bursa saham Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand hingga Taiwan semua berhasil mencetak penguatan.

The Fed mengatakan akan melakukan QE seberapapun yang dibutuhkan untuk mendukung kelancaran fungsi pasar serta transmisi kebijakan moneter yang efektif di segala kondisi finansial dan ekonomi. Selain itu, pelaku pasar juga menanti gelontoran stimulus fiskal senilai triliunan dolar AS dari yang saat ini sedang dibahas di Senat.

Koreksi IHSG kemungkinan disebabkan pula oleh perkembangan penyebaran virus corona di Indonesia yang semakin luas. Gugus Tugas COVID-19 mencatat saat ini terdapat 686 pasien corona, 55 orang di antaranya tutup usia.

[Gambas:Video CNBC]

Ini membuat rasio kematian (mortality rate) di Indonesia menjadi 8,02%. Lebih tinggi dari beberapa negara dengan kasus yang jauh lebih banyak seperti China (4,02%), AS (1,28), Spanyol (6,58%), Jerman (0,42%), sampai Iran (7,86%).

"Meningkatnya jumlah kasus di ASEAN dan Asia Selatan akan menambah tekanan dari sisi pasokan dan permintaan yang berakibat pada angka pertumbuhan ekonomi sampai kuartal II-2010. Kami menilai Indonesia dan Filipina adalah yang paling mengkhawatirkan karena sedikitnya jumlah penduduk yang sudah menjalani tes," sebut riset Citi.

Kekhawatiran ini yang yang sepertinya menghantui IHSG. Cemas terhadap upaya penanggulangan virus corona di Indonesia, investor memilih menjauh terlebih dulu sehingga aksi jual masih mendominasi bursa saham domestik.

TIM RISET CNBC INDONESIA
Artikel Selanjutnya

Tersengat Dampak Corona, IHSG Ambles Lebih 4%


(ags/ags)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading