Anies Tutup Perkantoran 14 Hari, 3 Emiten Ini Mulai Terdampak

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
23 March 2020 15:32
Dampak dari kebijakan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mulai berdampak.

Jakarta, CNBC Indonesia - Dampak dari kebijakan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk meniadakan kegiatan perkantoran di Jakarta selama 14 hari ke depan sejak Senin 23 Maret ini mulai dirasakan sejumlah emiten atau perusahaan publik di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Dalam seruan yang disampaikan Gubernur DKI Jakarta Nomor 6 Tahun 2020, ada lima poin yang disebutkan, di antaranya adalah menghentikan kegiatan perkantoran, menutup fasilitas operasional, dan melalukan kegiatan berusaha dari rumah.

Bagi perusahaan yang tidak bisa melakukan hal ini, harus meminimalisir sampai batas minimal, hal ini untuk mengurangi penularan virus coron atau COVID-19.

Penurunan pendapatan sudah dirasakan emiten transportasi PT Blue Bird Tbk (BIRD) dan emiten ritel ponsel PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA). Pasalnya, dengan penutupan perkantoran, mobilitas pekerja menjadi berkurang demikian halnya dengan kunjungan mall-mall di Jakarta jadi sepi.



"
COVID-19 dan kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah baik pusat dan daerah jelas memiliki dampak signifikan terhadap bisnis kami, terutama dari berkurangnya mobilitas masyarakat dan juga penurunan jumlah penumpang pesawat terutama di Soekarno Hatta," kata Investor Relation Blue Bird, Michael Tene, saat dihubungi CNBC Indonesia, Senin (23/3/2020).

Namun, Blue Bird belum menentukan apakah akan memangkas proyeksi pendapatan sepanjang tahun ini.

"Saya tidak bisa memberikan proyeksi atas laporan keuangan," terangnya.


Direktur Marketing dan Komunikasi Erajaya Group, Djatmiko Wardoyo, juga menjelaskan, kebijakan pembatasan sosial untuk menghindari penularan wabah COVID-19 langsung terasa di sektor riil karena berkurangnya kunjungan mall secara drastis.

Tidak hanya itu saja, kata Djatmiko, perusahaan juga menghadapi tantangan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Namun, perusahaan dengan kode saham ERAA ini belum akan memangkas proyeksi target pendapatan sepanjang tahun ini.

"Belum ada revisi target, karena kita masih mencermati perkembangannya seperti apa, dampak yang terasa Maret ini sebetulnya, belum bisa dihitung sekarang ini," ujarnya, baru-baru ini.

Sementara itu, emiten tekstil PT Pan Brothers Tbk (PBRX) masih optimistis ekspansi perseroan pada tahun ini masih akan tetap berjalan seperti target yang ditetapkan sejak awal tahun kendati pasti ada perlambatan.

Ekspansi tetap jalan walau pandemi, tapi ya kan supliernya baru mulai buka, jadi ya pasti ada delay," kata Anne Patricia Sutanto, Vice Chief Executive Officer Pan Brothers kepada CNBC Indonesia.

Pada tahun ini, perseroan berencana mengalokasikan belanja modal sebesar US$15 juta atau senilai Rp 210 miliar dengan kurs Rp 14.000 per US$.

Belanja modal itu akan fokus pada working capital, menambah kapasitas produksi baik di induk maupun anak perusahaan, memperkuat sistem digitalisasi di pabrik dan kerja sama dengan perusahaan tekstil lokal.



[Gambas:Video CNBC]




(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading