Ini Bukti IHSG Ambrol karena RI Gagal Cegah Corona

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
21 March 2020 17:58
Ini Bukti IHSG Ambrol karena RI Gagal Cegah Corona

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama sepekan ini ambrol hingga 14,5%, menjadikannya sebagai runner up bursa dengan koreksi mingguan terburuk di antara pasar saham utama Asia Tenggara. Kegagalan menghentikan penyebaran Corona menjadi faktor pemicunya.

Menurut data pasar yang dikompilasi Tim Riset CNBC Indonesia, enam bursa utama di kawasan ASEAN tercatat memerah sepanjang pekan lalu. Indonesia berada di posisi kedua terburuk setelah Filipina yang anjlok 17,5%. Sebaliknya, bursa Thailand mencatatkan koreksi yang paling ringan.

Secara umum, investor global memang menghindari investasi di aset berisiko seperti saham. Bursa di berbagai negara mulai dari Wall Street hingga bursa London dan Indonesia pun diterpa koreksi. Wall Street tercatat sudah memasuki fase bearish (koreksi berkepanjangan), karena sudah anjlok 30% dari titik tertingginya pada 19 Februari.

Pemicunya tak lain adalah sentimen penyebaran wabah corona yang statusnya telah menjadi pandemi, karena sudah menyebar di 180 negara di dunia. Mengutip pantauan Worldometer, sebanyak 276.458 orang di seluruh dunia telah terinfeksi. Angka kesembuhan mencapai 91.954 orang, sedangkan angka kematian mencapai 11.417 jiwa.

Namun, ada hubungan linier antara tingkat koreksi bursa dengan tingkat kegawatan corona di sebuah negara. Jika kita cermati di bursa kawasan Asia Tenggara, aksi jual akibat panik corona pekan ini menunjukkan pola yang konsisten dengan kenaikan premi credit default swap (CDS)--yang menjadi indikator persepsi investor atas risiko investasi di sebuah negara.

Filipina dan Indonesia yang mengalami koreksi bursa terparah sepekan menjadi dua negara ASEAN dengan kenaikan premi CDS tertinggi. Kenaikan premi CDS mengindikasikan investor harus membayar premi lebih mahal untuk melindungi asetnya di kedua negara itu, karena keduanya dipersepsikan memiliki risiko yang meningkat.

Sepanjang tahun ini, kenaikan premi CDS Filipina mencapai 4,7 kali, yang merupakan tertinggi jika dibandingkan dengan negara Asia Tenggara lainnya. Pada Jumat, posisi premi CDS bertenor 5 tahun di negara tersebut berada di level 155,8 padahal di awal tahun masih sebesar 33,5.

Indonesia menyusul di posisi kedua dengan premi CDS di 261,4 atau naik nyaris empat kali lipat dari posisi akhir tahun lalu pada 67,7. Selanjutnya, Thailand mencatatkan kenaikan angka premi CDS tiga kali, sama seperti Vietnam dan Malaysia.

Investor Global Perhatikan Penanganan Corona

Kenaikan persepsi risiko di mata investor global itu terkait erat dengan kemampuan penanganan corona-yang dikhawatirkan membawa dunia menuju resesi. Bursa di negara dengan korban corona tertinggi-diukur dari tingkat atau rasio kematiannya-mengalami koreksi terparah.

Mengacu pada situs Worldometer, yang memantau perkembangan jumlah penderita corona di seluruh dunia, rasio kematian Indonesia saat ini mencapai 8,4%, atau dua kali lipat dari rerata global sebesar 4,1%.

Itu merupakan angka yang terburuk di antara negara anggota ASEAN. Filipina berada di posisi kedua sebanyak 6,2%. Tingginya rasio kematian menunjukkan kerentanan masyarakat di sebuah negara terhadap serangan corona. Investor pun memilih melepas aset investasinya karena khawatir dengan resesi yang bisa muncul jika corona terus mewabah.

Di tengah kondisi pasar yang tertekan, mayoritas saham unggulan mengalami tekanan sepanjang pekan ini. Saham yang masih bisa menguat mayoritas adalah saham lapis kedua dan ketiga yang penguatannya tidak banyak berdampak pada penguatan IHSG.

Secara total, ada 83 saham yang secara mingguan mencatatkan penguatan di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) sepekan ini. Jumlah itu hanya setara 15,5% dari total saham yang diperdagangkan. Artinya, bursa benar-benar terkapar tak berdaya oleh aksi jual investor asing.

Penjualan bersih (net sell) asing di bursa saham sepanjang pekan mencapai Rp 2,5 triliun di semua pasar (pasar reguler maupun pasar negosiasi). Perdagangan Jumat saja menyumbang nyaris sepertiga dari aksi jual pekan ini, yakni sebesar Rp 794 triliun.

Singkat kata, corona benar-benar bikin pasar sepekan ini merana. Kalau mau IHSG bangkit, maka satu-satunya cara adalah dengan menyetop penyebaran corona.

TIM RISET CNBC INDONESIA


(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading