Dampak Corona, Harta Prajogo Pangestu Menguap Rp 60 T

Market - Houtmand P Saragih, CNBC Indonesia
18 March 2020 11:54
Ini artinya, kekakayaan pemilik perusahaan ini, Prajogo Pangestu, ikut merosot dalam.
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga PT Barito Pasific Tbk (BRPT) sepanjang tahun berjalan hingga kemarin, Selasa (17/3/2020) tercatat mengalami koreksi 62,25%. Ini artinya, kekakayaan pemilik perusahaan ini, Prajogo Pangestu, ikut merosot dalam.

Pada akhir 2019, harga saham BRPT tercatat masih berada pada kisaran Rp 1.510/unit. Pada harga tersebut nilai kapitalisasi saham BRPT mencapai Rp 134,41 triliun.

Namun pada perdagangan kemarin, harga saham BRPT sudah drop ke level harga Rp 570/unit. Nilai kapitalisasi saham BRPT pun merosot menjadi Rp 50,74 triliun.



Artinnya nilai kapitalisasi saham BRPT sudah tegerus sebanyak Rp 83,68 triliun. Tentu nilai yang sangat besar.

Lalu berapa banyak saham BRPT yang dimiliki oleh Prajogo Pangestu? Berdasarkan data BEI, Prajogo tercatat menjadi pemilik 71,48% saham BRPT.

Artinya, nilai saham kepemilikan saham BRPT oleh Prajogo sudah berkurang sebanyak Rp 59,81 triliun.

Majalah Forbes menempatkan Prajogo Pangestu sebagai orang terkaya ke-3 Indonesia dengan nilai kekayaan yang ditaksir mencapai US$ 3,5 miliar.

Prajogo lahir 75 tahun silam di Sambas, Kalimantan Barat dengan nama Phang Djoem Phen. Ayahnya bernama Phang Siu On yang bekerja sebagai penyadap getah karet.


Parajogo merantau ke Jakarta untuk mengubah nasib hidupanya. Namun, kala itu Dewi Fortuna belum memihak padanya, ia tidak terlalu beruntung tinggal di ibu kota Indonesia karena tidak kunjung mendapatkan pekerjaan. Oleh karena itu, ia memutuskan kembali ke Kalimantan dan bekerja menjadi sopir angkutan umum.

Ketika sedang menjalani hari-harinya sebagai sopir, di 1960-an, Prajogo bertemu dan berkenalan dengan pengusaha kayu asal Malaysia, bernama Bong Sun On, atau Burhan Uray. Di sinilah nasibnya mulai berubah.

Ia memutuskan untuk bergabung dengan Burhan di PT Djajanti Group pada 1969. Terkesan dengan kerja keras yang dilakukannya, tujuh tahun kemudian, Burhan pun mengangkat Prajogo menjadi general manager (GM) di pabrik Plywood Nusantara, Gresik, Jawa Timur.

Karirnya sebagai GM Plywood Nusantara bisa dibilang singkat. Hanya bertahan selama setahun, kemudian Prajogo memutuskan mundur sebagai GM dan keluar dari perusahaan untuk mencoba memulai bisnis sendiri.

Dengan bermodal pinjaman dari BRI, yang kemudian berhasil dilunasi dalam setahun, ia pun membeli CV Pacific Lumber Coy yang kala itu sedang mengalami kesulitan keuangan.

Prajogo kemudian mengganti nama Pacific Lumber menjadi PT Barito Pacific Lumber. Pada 1993, perusahaannya menjadi perusahaan publik, dan dalam perjalanannya, Prajogo mengganti nama Pacific Lumber menjadi PT Barito Pacific setelah mengurangi bisnis kayu pada 2007.

[Gambas:Video CNBC]


Kemudian bisnisnya terus meningkat hingga bekerja sama juga dengan anak-anak Presiden Soeharto dan pengusaha lainnya demi memperlebar bisnisnya. Bisnisnya dengan bendera Barito Group berkembang luas di bidang petrokimia, minyak sawit mentah, properti, hingga perkayuan.

Di 2007, Barito Pacific mengakuisisi 70% perusahaan petrokimia, Chandra Asri, yang juga terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Pada 2008, perusahaan mengakuisisi PT Tri Polyta Indonesia Tbk.

Pada 2011, Chandra Asri pun merger dengan Tri Polyta Indonesia dan menjadi produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia.
(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading