Saham & Rupiah Bergejolak, Sri Mulyani: Bukan Kondisi Biasa

Market - Lidya Julita Sembiring & Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
10 March 2020 14:40
Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terus memonitor pergerakan pasar saham dan nilai tukar rupiah yang kemarin sempat bergejolak.
Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Keuangan bersama otoritas terkait yang terhimpun dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terus memonitor pergerakan pasar saham dan nilai tukar rupiah yang kemarin sempat bergejolak.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, di Jakarta, mengakui, kondisi pasar saham dan nilai tukar pada perdagangan awal pekan ini, Senin (9/3/2020) terkoreksi tajam dan bergerak di luar kewajaran atau extraordinary terimbas sentimen negatif meluasnya virus Corona di berbagai negara dan kejatuhan harga minyak dunia.

"Kita betul-betul mengamati perkembangan yang terjadi sekarang ini. Perkembangan di pasar saham dan pasar nilai tukar, forex dan surat berharga negara itu semua menjadi perhatian kita perlu untuk yang terus kita ikuti dan waspadai, karena memang pergerakannya ini diakui seluruh dunia extra-ordinary, di luar kebiasaan," terang Bendahara Negara, Selasa (10/3/2020).



Sri mengakui, jatuhnya pasar saham domestik sebesar 6,6% ke posisi 5.136,81 kemarin, Senin (9/3/2020), senada dengan penurunan bursa saham Wall Street, London, Jerman, Australia dan bursa saham regional. "Semua memberikan warning kepada kita bahwa ini bukan kondisi biasa," tegasnya.

Kementerian, kata Sri Mulyani bersama-sama dengan Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), terus melakukan pemantauan pengaruh pergerakan di pasar keuangan ini terhadap stabilitas sistem keuangan Indonesia.


Mantan Direktur Eksekutif Bank Dunia ini menyebutkan, OJK telah menempuh kebijakan pengamanan meredam pelemahan IHSG lebih dalam melalaui kebijakan auto rejection asimetris. Artinya, saham yang volatilitasnya di atas 10% langsung terkena auto reject.

"Kemudian relaskasasi buyback saham tanpa ada RUPS, ini untuk mengembalikan rasionalitas pasar," ujarnya.

"Sekarang ada ketidakamanan dan ketidaknyamanan karena virus atau kemudian perang minyak antara Saudi dan Rusia, mereka memunculkan ketidakamanan dan kenyamananan itu dengan mengalihkan investasi ke instrumen yang dianggap paling aman," tandasnya.


[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya

BI Pangkas Suku Bunga 25 bps, Ini Pandangan Ekonom!


(Syahrizal Sidik/hps)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading