Internasional

Corona & Minyak Bikin Wall Street Anjlok Terparah Sejak 2008

Market - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
10 March 2020 08:47
Wabah virus corona dan harga minyak yang merosot tajam buat saham Wall Street anjlok ke rekor terendah sejak krisis 2008.

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Saham Amerika Serikat (AS) Wall Street mencatatkan penurunan terbesarnya sejak krisis keuangan 2008 pada Senin (9/3/2020). Hal itu disebabkan oleh kekhawatiran akan terjadinya resesi akibat anjloknya harga minyak dan wabah virus corona yang telah menewaskan 100 ribu orang lebih.

Rata-rata, ketiga indeks saham utama AS anjlok tajam di bel pembukaan. Hal ini juga sempat membuat perdagangan dihentikan di awal transaksi dibuka.

Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 2.013,76 poin atau 7,79%, menjadi 23.851,02, S&P 500 terkoreksi 225,81 poin atau 7,6%, menjadi 2.746,56 dan Nasdaq Composite turun 624,94 poin atau 7,29%, menjadi 7.950,68.


Sentimen negatif untuk pasar datang dari kejatuhan harga minyak, yang terjadi pasca negara-negara yang tergabung dalam OPEC + mengumumkan akan menghentikan pemangkasan produksi mulai akhir Maret pada Jumat lalu.

Sebagaimana diketahui, pada Jumat lalu negara-negara yang tergabung dalam OPEC + mengadakan pertemuan di Wina, Austria. Setelah pertemuan, mereka mengumumkan akan berhenti melakukan pemangkasan produksi besar-besaran setelah Rusia menolak melanjutkan memangkas produksi dengan alasan untuk mendukung pasar minyak yang sedang mengalami kemerosotan permintaan akibat merebaknya wabah virus corona (COVID-19) asal Wuhan, China.

OPEC + merupakan kelompok gabungan antara negara-negara OPEC yang dipimpin Arab Saudi, dengan negara-negara sekutu non-OPEC yang dipimpin Rusia. Kesemua negara yang tergabung dalam kelompok itu pertama kali berkomitmen pada kebijakan untuk membatasi produksi minyak secara kolektif pada tahun 2016. Itu merupakan upaya mereka untuk meningkatkan harga. Kesepakatan mulai berlaku pada Januari 2017.

"Ada banyak ketakutan di pasar dan jika harga minyak terus bergerak lebih rendah itu merupakan indikasi bahwa resesi global tidak jauh," kata Peter Cardillo, kepala ekonom pasar di Spartan Capital Securities di New York, mengutip Reuters.

Sementara itu, kasus corona terus menjadi penghalang naiknya saham karena wabah ini tidak hanya menewaskan banyak orang, tapi juga telah memporak-porandakan ekonomi. Per Selasa pagi, wabah mirip SARS ini telah menginfeksi 113,604 orang dan menelan korban jiwa 4.012 orang secara global, menurut Johns Hopkins CSSE.

Selain menjatuhkan harga saham, berbagai sentimen negatif itu juga menyebabkan imbal hasil (yield) patokan Treasury AS bertenor 10-tahun sempat merosot ke 0,318%, ke rekor terendah.

Sementara itu, indeks Volatilitas CBOE, ukuran kecemasan investor, menyentuh level tertingginya sejak Desember 2008.

[Gambas:Video CNBC]




(res/res)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading