Internasional

Rusia-Arab "Perang" Harga Minyak, kok AS yang Terdampak?

Market - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
09 March 2020 09:31
Pasca menolak memperpanjang pemangkasan produksi minyak, Rusia kemungkinan akan terlibat perang harga dengan Arab Saudi dan OPEC.

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Rusia Vladimir Putin baru saja memicu perang harga minyak terburuk dalam sejarah modern setelah negaranya, yang memimpin sekutu-sekutu non-OPEC, menolak untuk melanjutkan upaya pemangkasan produksi pada pekan lalu.

Menurut Brian Sullivan seorang Anchor & Senior National Correspondent di CNBC International, langkah ini akan membuat pasokan minyak membludak, dan yang lebih parah, ini akan merugikan perusahaan minyak dan gas Amerika Serikat.

Sebagaimana diketahui, pada pertemuan OPEC di Wina, Austria, Jumat lalu (6/3/2020), OPEC yang dipimpin Arab Saudi serta anggota non-OPEC, gagal mempertahankan kesepakatan untuk memangkas produksi minyak.


Dalam kesempatan itu, anggota OPEC awalnya mengajukan proposal untuk memangkas kuota produksi minyak lebih lanjut sebanyak 1,5 juta barel per hari. Namun, Rusia menolaknya.

Parahnya, pasca kelompok gabungan yang disebut OPEC + itu mengumumkan menghentikan produksi, Arab Saudi malah mengumumkan akan memberikan diskon harga minyak.

Sebagaimana dilaporkan CNBC International, Arab Saudi berencana memberi potongan harga minyak mentah bagi pelanggan China sebanyak US$ 6 atau US$ 7 per barel. Tidak hanya itu, negara ini juga dilaporkan ingin meningkatkan produksi minyak mentah harian sebanyak 2 juta barel per hari (bph) ke dalam pasar global yang sudah kelebihan pasokan.

"Pergerakan Saudi ini adalah perebutan pangsa pasar dan sinyal keras ke Moskow bahwa mereka telah melakukan permainan." tulis Sullivan dalam artikel yang dimuat di media itu.

Keadaan yang mengkhawatirkan ini semakin diperparah fakta bahwa wabah virus corona asal Wuhan, China telah menekan permintaan global akan minyak. Ini dikarenakan banyak orang menunda atau membatalkan perjalanan karena khawatir tertular virus mematikan itu.

Akibat COVID-19 yang telah menjangkiti lebih dari 100 ribu orang dan juga menewaskan 3.000 lebih ini, harga minyak mentah telah turun 30% sepanjang tahun ini.

Akibatnya, banyak perusahaan-perusahaan di sektor minyak dan gas yang mengalami kerugian, utamanya dari Amerika Serikat (AS). Saham Chevron, misalnya, telah turun 20% pada tahun 2020 ini.

Namun demikian saham Chevron masih menjadi saham energi berkinerja terbaik di Amerika. Sementara sebagian besar saham perusahaan di sektor ini turun 30%, 40% atau bahkan 50% sejak 1 Januari. Misalnya, S&P Oil & Gas ETF (XOP), telah turun 33% bulan ini.

"Bukan hiperbola media untuk menyebut apa yang terjadi akhir pekan ini di pasar minyak sebagai hal "bersejarah". Ketika Rusia keluar dari markas OPEC di Austria, tiba-tiba setiap negara - dan setiap perusahaan AS - memikirkan dirinya sendiri. Perlombaan ke atas dalam produksi dan perlombaan ke bawah dalam harga." jelas Sullivan.

[Gambas:Video CNBC]


(res/res)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading