Corona Kian Ganas, Kilau Emas Malah Meredup, Kok Bisa?

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
29 February 2020 09:44
Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia sedang dihebohkan dengan meluasnya penyebaran virus corona dalam kurun waktu satu bulan terakhir. Pasar yang panik dan diliputi kecemasan membuat para pelakunya mengamankan portofolionya dengan berburu aset-aset minim risiko.

Sejak jumlah kasus baru dilaporkan bertambah signifikan di China pada 20 Januari lalu, harga emas cenderung bergerak naik. Epidemi corona di China sebagai ekonomi kedua terbesar di China membuat prospek ekonomi jadi suram. Jadi wajar saja kalau emas sebagai aset safe haven diburu dan harganya terkerek naik.





Harga logam mulia ini mulai cetak rekor dan mencatatkan reli tak terbendung sejak 18 Februari 2020. Kala itu harga emas dunia di pasar spot ditutup di US$ 1.601,66/troy ons. Setelah itu harga emas terus naik dan mencetak rekor tertingginya dalam tujuh tahun.

Puncaknya terjadi pada 24 Februari lalu di mana harga emas ditutup di level paling tingginya di US$ 1.660,42/troy ons. Namun setelah itu harga emas langsung melorot. Bahkan pada penutupan Jumat (28/2/2020), harga emas anjlok dalam 3,35% ke level US$ 1.587,01/troy ons.



Harga emas kembali keluar dari level psikologis IS$ 1.600/troy ons. Dalam sepekan terakhir tercatat jatuh 3,42% (wow). Di tengah merebaknya virus corona yang kini telah menjangkiti lebih dari 80.000 orang di lebih dari 50 negara emas malah mendapat tekanan jual.

Investor lebih memilih untuk mencairkan cuan dari harga emas yang sudah sangat tinggi. "Ada aksi ambil untung pada emas" kata Xiao Fu, analis Bank of China seperti diwartakan Reuters. "Jadi tak heran jika ada koreksi dari waktu ke waktu apalagi (harga) sudah meningkat secara tajam" tambahnya.

"Mungkin yang dibayangkan adalah, permintaan emas akan tetap kuat dalam kondisi seperti sekarang ini, tetapi yang terjadi malah sebaliknya" tulis analis Commerzbank dalam sebuah catatan.

Lebih lanjut Commerzbank menilai aksi jual emas ini dilakukan para investor untuk mengimbangi kerugian di tempat lain. Maklum sejak lonjakan kasus baru infeksi virus corona di luar China dilaporkan, terjadi tekanan jual yang masif di bursa saham global.

"Ketika sentimen diliputi oleh rasa ketakutan, investor selalu memilih kas dan likuiditas dan memilih menjual investasi yang sudah untung karena margin calls atau untuk menutupi kerugian pada investasi lain" kata Samson Li, seorang analis logam mulia Refinitiv yang berbasis di Hong Kong, melansir Reuters.

Selain faktor di atas, virus corona yang masih jadi wabah di China ditakutkan mengganggu permintaan emas di negara tersebut. Perlu diketahui, China merupakan negara pembeli emas terbesar di dunia dan telah mengungguli India. Hal ini juga jadi sentimen negatif lain yang membuat kilau emas akhirnya pudar.


[Gambas:Video CNBC]




US Treasury Jadi Pilihan?
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading