Berharap Duit dari China, Rupiah Menguat Lagi

Market - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
18 February 2020 08:14
Sepertinya investor berharap banyak terhadap stimulus ekonomi yang digelontorkan China untuk menangkal serangan virus Corona.
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat di perdagangan pasar spot pagi ini. Sepertinya investor berharap banyak terhadap stimulus ekonomi yang digelontorkan China untuk menangkal serangan virus Corona.

Pada Selasa (18/2/2020), US$ 1 setara dengan Rp 13.650 kala pembukaan pasar spot. Sama persis dengan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya alias stagnan.

Selepas itu, rupiah perlahan mulai menguat. Pada pukul 08:09 WIB, US$ 1 dihargai Rp 13.645 di mana rupiah menguat tipis 0,04%.



Kemarin, rupiah menutup perdagangan pasar spot dengan apresiasi 0,15% di hadapan dolar AS. Padahal mata uang Tanah Air hampir sepanjang hari menghuni zona merah.

Sepertinya apa yang membuat rupiah mampu bangkit kemarin masih terasa sampai hari ini. Bank sentral China (PBoC) kemarin memutuskan untuk menurunkan suku bunga Medium-term Lending Facility (MLF) tenor setahun dari 3,25% menjadi 3,15%.

Penurunan ini akan 'mengguyur' likuiditas ke perekonomian China. Sebuah langkah yang memang sangat dibutuhkan karena Negeri Tirai Bambu sedang menghadapi masalah serius yaitu penyebaran virus Corona.

Mengutip data satelit pemetaan ArcGis per pukul 07:53 WIB, jumlah kasus Corona di seluruh dunia sudah mencapai 73.287 di mana 72.391 ada di China. Sementara korban jiwa tercatat 1.872 orang, empat datang dari luar China.


Penyebaran virus Corona yang begitu masif membuat aktivitas ekonomi China terganggu. Setelah libur Tahun Baru Imlek, roda perekonomian China belum bergulir normal karena dihantui virus mematikan.

Oleh karena itu, PBoC agresif dalam menyuntikkan stimulus. Penurunan MLF hari ini diyakini pelaku pasar sebagai pembuka jalan pemangkasan Loan Prime Rate (LPF) yang akan diumumkan Kamis pekan ini.

Tidak hanya PBoC, pemerintah China pun siap dengan stimulus fiskal. Menteri Keuangan China Liu Kun mengungkapkan, pemerintah akan segera menggulirkan program insentif pajak. "Ke depan, penerimaan negara akan turun sementara belanja negara meningkat ," kata Liu, seperti diberitakan Reuters.


Stimulus dari PBoC dan pemerintah China tersebut diharapkan dapat menjadi pelumas bagi mesin pertumbuhan ekonomi di China. Dengan begitu, ekonomi China bisa mendarat dengan mulus, tidak ada hard landing meski melambat.

Investor juga berharap uang dari China bisa merembes ke pasar keuangan global. Likuiditas yang melimpah akan pada akhirnya akan mendorong keberanian investor untuk masuk ke aset-aset berisiko.

TIM RISET CNBC INDONESIA


(aji/aji)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading