Merapi Rentan Erupsi, Ini Cara Jokowi Antisipasi Banjir Lahar

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
15 February 2020 08:26
Merapi Rentan Erupsi, Ini Cara Jokowi Antisipasi Banjir Lahar

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyambangi Sabo Dam Kali Putih yang lokasinya hanya berjarak 1 kilometer dari Taman Nasional Gunung Merapi Jurang Jero, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah, pada Jumat kemarin (14/2/2020).

"Gunung Merapi adalah salah satu gunung api teraktif di Indonesia. Erupsinya bisa disusul banjir lahar yang menimbulkan korban, merusak permukiman, juga sarana dan dan fasilitas publik. Erupsi besar Gunung Merapi tahun 2010 bahkan menghasilkan 140 juta meter kubik lahar," tulis Jokowi, dalam akun resmi Instagram @jokowi, dikutip Sabtu (15/2/2020).

[Gambas:Instagram]


"Karena itulah, kita bangun Sabo Dam dan prasarana pengendali banjir lahar lainnya secara besar-besaran. Tidak tanggung-tanggung, kita bangun sebanyak 272 unit Sabo Dam," kata Jokowi.


"Inilah salah satunya, Sabo Dam Kali Putih yang saya kunjungi hari ini. Lokasinya sekitar satu kilometer dari Taman Nasional Gunung Merapi Jurang Jero di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah."

Menurut Presiden, Sabo Dam ini dibangun selain untuk mengendalikan aliran lahar dingin Gunung Merapi, juga sebagai jembatan penghubung antardesa, intake sumber air baku dan irigasi, serta area wisata. Sedang bagian hulu Sabo jadi lokasi penambangan pasir dan batu secara terkendali.



Pada Kamis lalu (13/2), Gunung Merapi mengalami erupsi. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyatakan tinggi kolom erupsi yang terjadi pukul 05.16 WIB mencapai 2.000 meter.

BPPTKG - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM mengamati angin berhembus ke arah barat laut, sedangkan erupsi terjadi selama 150 detik. Namun, pantauan saat ini angin berhembus tenang.


"Gunung Merapi yang terakhir meletus hebat pada 2010 lalu masih berstatus level 2 atau 'Waspada' sejak 21 Mei 2018," kata Agus Wibowo, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dalam siaran pers, Kamis pagi.

Di samping itu, PVMBG mencatat potensi bahaya saat ini berupa luncuran awan panas dari runtuhnya kubah lava dan jatuhan material vulkanik dari letusan eksplosif. Demikian juga, potensi bahaya lahar, khususnya apabila terjadi hujan di sekitar puncak gunung.

Situs resmi Setneg mencatat, Gunung Merapi merupakan salah satu gunung api teraktif di Indonesia. Erupsi kecil terjadi 2 kali dalam 10 tahun, sedangkan erupsi besar terjadi setiap 10 tahun sekali. Erupsi terbesar terjadi tahun 2010 lalu (sejak 170 tahun).


Erupsi Gunung Merapi telah menyebabkan terjadinya banjir lahar yang mengakibatkan terjadinya korban jiwa, kerusakan pemukiman, sarana dan prasarana jalan, bangunan pengairan, serta fasilitas umum lainnya. Untuk itu, sejak tahun 1969, dilaksanakan program pengendalian banjir lahar Gunung Merapi untuk penanggulangan dampak erupsi.

Dalam rangka penanggulangan banjir lahar Gunung Merapi, pada tahun 1977-1980 disusun sebuah rencana induk sebagai hasil kerja sama Indonesia dan Jepang. Selanjutnya, rencana induk tersebut ditinjau ulang tahun 2001, untuk kemudian ditinjau kembali pada tahun 2017 setelah erupsi besar tahun 2010 yang menghasilkan 140 juta meter kubik lahar.

Berdasarkan rencana induk tersebut, dilaksanakan pembangunan Sabo Dam dan prasarana pengendali banjir lahar lainnya secara besar-besaran, yaitu sebanyak 272 unit Sabo Dam.

Selama peninjauan Sabo Dam tersebut, Presiden didampingi antara lain oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, serta Kepala BNPB Doni Monardo. 

[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading