Efek Virus Corona & Ekonomi Berisiko Melambat, Rupiah KO

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
13 February 2020 17:52
Efek Virus Corona & Ekonomi Berisiko Melambat, Rupiah KO Foto: Ilustrasi Rupiah dan Dolar (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (13/2/2020) akibat memburuknya sentimen pelaku pasar setelah korban virus corona melonjak.
 
Rupiah membuka perdagangan dengan stagnan di level Rp 13.655, tetapi tidak lama langsung masuk ke zona merah. Depresiasi rupiah membesar hingga 0,4% ke Rp 13.710/US$, sebelum memangkas pelemahan tersebut dan mengakhiri perdagangan di level Rp 13.675/US$, melemah 0,15% di pasar spot, melansir data Refinitiv.

Mayoritas mata uang utama Asia memang melemah pada perdagangan hari ini. Hingga pukul 16:05 WIB, rupee India menjadi yang terburuk dengan pelemahan sebesar 0,2%. Sementara itu yen Jepang menjadi yang terbaik dengan menguat 0,27%.




Fakta yen menguat dan mayoritas mata uang utama Asia lainnya melemah menunjukkan sentimen pelaku pasar memang sedang memburuk. Yen merupakan aset yang menyandang status safe haven, yang menjadi target investasi.

Berikut pergerakan dolar AS melawan mata uang utama Benua Kuning.




Rabu kemarin, harapan akan segera berakhirnya wabah virus corona atau yang kini disebut Covid-19 mampu mengangkat sentimen pelaku pasar, dan membuat rupiah menguat 2 hari beruntun.

Penasihat medis terkemuka di China mengatakan penyebaran Covid-19 akan mencapai puncaknya di bulan ini. Itu artinya dalam beberapa bulan ke depan, wabah virus yang berasal dari kota Wuhan tersebut akan berakhir.

Hal tersebut diperkuat oleh Zhong Nanshan, epidemiolog China yang berhasil 'mengusir' SARS pada 2002-2003, memperkirakan penyebaran virus Corona akan selesai dalam sekitar dua bulan mendatang.

"Saya berharap kejadian ini bisa selesai sekitar April," ujar Zhong, sebagaimana diwartakan Reuters Rabu (12/2/2020).



Tetapi nyatanya jumlah pasien justru melonjak. Berdasarkan data dari satelit pemetaan ArcGis, total korban meninggal akibat virus corona sebanyak 1.367 orang. Dari total tersebut, sebanyak dua orang yang meninggal di luar China. Covid-19 kini telah menjangkiti lebih dari 60.000 orang di seluruh dunia.

Angka tersebut naik signifikan dibandingkan laporan kemarin dimana sebanyak 1.115 orang, dan menjangkiti sekitar 45.000 orang di seluruh dunia.
Lonjakan tersebut terjadi setelah pemerintah China mulai menggunakan "diagnosa secara klinis" sehingga terjadi penambahan jumlah korban yang terjangkit lebih dari 13.000 orang.

Dampaknya, harapan akan segera berakhirnya wabah Covid-19 kini meredup, pelaku pasar justru dicemaskan akan melambatnya ekonomi China dan berdampak ke global. Maklum saja, China merupakan negara dengan nilai ekonomi terbesar kedua di dunia setelah AS.

Ketika ekonomi China melambat maka negara-negara lain juga akan terseret, termasuk Indonesia.

Masih belum jelas seberapa besar ekonomi China akan tertekan akibat wabah tersebut, hasil riset S&P memprediksi produk domestic bruto (PDB) Negeri Tiongkok akan terpangkas hingga 1,2%. Sementara itu Bank Dunia mengatakan pelambatan ekonomi China sebesar 1% dapat membuat ekonomi Indonesia melambat 0,3%.

Akibat memburuknya sentimen pelaku pasar, dan risiko pelambatan ekonomi yang dialami Indonesia, rupiah akhirnya melemah pada hari ini.


TIM RISET CNBC INDONESIA



(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading