Sebulan IHSG Memerah, Ini 10 Saham yang Sudah Murah!

Market - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
05 February 2020 07:20
Ketika terjadi koreksi, saham unggulan akan menjadi penekan terbesar indeks dibanding saham lapis dua atau bahkan lapis tiga.
Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah terkoreksi hampir 7%, tepatnya 6,97% dari posisi tertinggi 2020 pada 14 Januari 2020, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kehilangan kapitalisasi pasar Rp 499,84 triliun pada 14 Januari hingga menyentuh posisi penutupan terendahnya kemarin (03/02/2020).

Ketika terjadi koreksi, tentunya saham-saham unggulan (blue chips) akan menjadi penekan terbesar indeks dibandingkan dengan saham lapis dua atau bahkan lapis tiga (second/third liner).


Tidak butuh waktu lama, PT RHB Sekuritas Indonesia ternyata sudah mencermati beberapa saham blue chips yang terkoreksi dalam dan memiliki nilai pasar menarik karena harga pasar sahamnya sudah jauh di bawah harga wajar/intrinsiknya. Dengan kata lain, harga pasar saham tersebut sudah terlalu murah (undervalued).

Dalam risetnya hari ini, Tim Riset RHB Sekuritas menilai setidaknya ada 10 saham yang masih menarik di matanya karena koreksinya sudah cukup dalam yang didukung faktor fundamental yang mumpuni.


Saham-saham itu adalah PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Indosat Tbk (ISAT), PT Waskita Karya Tbk (WSKT), PT PP Tbk (PTPP), PT Ciputra Development Tbk (CTRA), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), dan PT Jasa Marga Tbk (JSMR). Dua saham lain adalah PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) dan PT XL Axiata Tbk (EXCL).


Tim riset yang terdiri dari Andrey Wijaya, Michael Setjoadi, dan Andre Benas tersebut menilai harga saham BBNI yang sudah turun banyak membuat valuasi rasio harga saham per nilai buku berdasarkan prediksi kinerja 2020-nya (PBV 2020F) turun hingga tinggal 1x.

Pertimbangan lain adalah potensi pergantian direksi perseroan masih terbuka meskipun dinilai tidak akan terjadi dalam waktu dekat, yaitu pada kuartal I-2020, karena beban provisi terkait dengan kredit yang tidak lancar kepada Grup Duniatex sudah dipenuhi semua.

"Perseroan juga sudah memenuhi sebagian beban provisi untuk kredit PT Krakatau Steel Tbk (KRAS), meskipun utang BUMN baja tersebut sudah pasti akan direstrukturisasi," ujar tim riset RHB Sekuritas itu.

Ketiga analis juga mencermati bahwa saham WSKT dan PTPP sudah amblas hingga 20% dalam 20 hari terakhir. Karena penurunan harga yang cukup dalam, tekanan jual kedua saham yang masuk ke dalam portofolio beberapa reksa dana bermasalah tersebut dinilai akan berkurang pada pertengahan Februari.

Pertengahan Februari dinilai menjadi akhir dari periode pembubaran reksa dana yang sedang bermasalah, terutama enam reksa dana PT Minna Padi Aset Manajemen yang berdana kelolaan Rp 5,75 triliun yang harus dibubarkan.

"Kami masih menyematkan rekomendasi OVERWEIGHT untuk sektor itu [konstruksi], karena ada proyek infrastruktur baru pemerintah (HSR Jakarta-Bandung, SPAM Umbulan, dan MRT fase 2), yang dapat memberikan pertumbuhan, sedangkan pembayaran proyek turnkey dan inisiatif lain akan melegakan neraca [perusahaan konstruksi]."

Untuk dua saham properti, yaitu CTRA dan BSDE, tim riset RHB Sekuritas mencermati beberapa hal: likuiditas pasar keuangan yang diprediksi akan melonggar karena turunnya emisi obligasi pemerintah tahun ini, suku bunga acuan yang turun, harga saham yang terkoreksi, fokus kedua perusahaan pada rumah pertama, dan peluncuran proyek-proyek baru.

Untuk Indosat, RHB Sekuritas memperhatikan faktor peluncuran paket harian/pekanan dengan kompetisi paket bulanan yang mereda, pendapatan per pengguna (ARPU) Indosat yang masih rendah, dan belanja modal yang agresif pada 2020.

Saham AALI menjadi perusahaan perkebunan satu-satunya yang direkomendasi sekuritas itu. Faktor yang membuat mereka optimistis adalah pelemahan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) baru-baru ini yang ditambah prospek cerah harga komoditas tersebut ke depan.

Optimisme tersebut didorong oleh prediksi turunnya produksi sebanyak 1 juta ton pada 2019-2020 karena faktor kekeringan dan turunnya tingkat pemupukan oleh pemilik kebun-kebun sawit kecil pada periode 2016-2019, tepatnya ketika harga CPO turun.

 



[Gambas:Video CNBC]





TIM RISET CNBC INDONESIA


(irv)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading