Bos Krakatau Steel Buka-bukaan Soal Utang Fantastis Rp30 T

Market - Lidya Julita Sembiring, CNBC Indonesia
01 February 2020 17:25
Simak penjelasan Direktur Utama KRAS Silmy Karim berikut ini.
Jakarta, CNBC IndonesiaPT Krakatau Steel Tbk (KRAS) atau KS baru saja menuntaskan program restrukturisasi utang-utang dengan nilai fantastis mencapai US$2,2 miliar atau sekitar Rp 30 triliun. Melalui proses itu, KRAS mengklaim mampu berhemat US$685 juta atau Rp 9,3 triliun.

Proses ini telah dilakukan sejak akhir 2018 dan baru bisa diselesaikan di awal 2020 ini. Dengan restrukturisasi utang ini, ada skema keringanan tenor pinjaman hingga bunga kredit sehingga beban KS makin ringan. Harapannya dalam jangka panjang bisa melunasi kewajiban-kewajibannya.

Kok bisa sih BUMN produsen baja ini memiliki utang dengan nilai yang begitu fantastis?


Direktur Utama KRAS Silmy Karim mengatakan utang ini sebagian besar berasal dari kebutuhan dana untuk menutupi investasi perusahaan di masa lampau. Namun, terjadi mismatch antara investasi dan realisasi yang terjadi. Meski investasi besar tapi tak menghasilkan keuntungan bagi perusahaan.

"Jadi, kalau ditanya utang buat apa, ya satu buat investasi, tetapi investasi tersebut tidak menghasilkan tambahan penjualan dan juga keuntungan. Kemudian ada pembayaran utang menggunakan utang. Mismatch lah," kata Silmy dalam konferensi pers di kantor Kementerian Badan Usaha Milik Negara, pekan lalu.



Dia menjelaskan, utang yang menumpuk tentu saja membuat neraca keuangan perusahaan menjadi makin berat dari tahun ke tahun. Hal yang sama terjadi sejak 10 tahun terakhir. Namun, soal sejak kapan awal akumulasi utang perseroan, Silmy tak menjelaskan.

Eks Direktur Utama PT Pindad (Persero) itu menjelaskan, kebutuhan investasi perusahaan yang dimaksudkan mayoritas berasal dari investasi pembangunan pabrik blast furnace yang disinyalir nilainya mencapai Rp 10 triliun.

Namun, setelah pembangunan selesai dan pabrik mulai beroperasi, manajemen perusahaan memutuskan untuk menghentikan operasi pabrik lantaran biaya operasional yang mahal. Selain itu, terdapat kebutuhan investasi lainnya dengan nilai mencapai kisaran Rp 3 triliun hingga Rp 5 triliun.

"Jadi total itu separuh buat investasi tapi investasinya nggak maksimal nggak sesuai harapan," katanya.

(miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading