Valuasi Sudah Murah, Layakkah Investasi di Saham BJBR?

Market - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
27 January 2020 12:20
Salah satu emiten yang menunjukan valuasi yang menjanjikan yakni PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR).
Jakarta, CNBC Indonesia- Dalam berinvestasi di pasar modal banyak hal harus dipertimbangkan dalam memilih emiten. Dengan kondisi pasar modal yang seringkali volatil, harga saham emiten pun juga ikut naik turun.

Meski demikian, koreksi harga saham sebuah perusahaan tidak selalu negatif, ini juga menjadi peluang terhadap lebih murahnya saham emiten tersebut. Salah satu emiten yang menunjukan valuasi yang menjanjikan yakni PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR).

Murahnya valuasi tersebut dapat tercermin dari rasio harga saham per nilai buku (price to book value/PBV), terutama karena BJBR masih di bawah rata-rata industri perbankan dan keuangan.


Adapun PBV bank bjb tercatat 0,96, dengan total aset Rp 123,56 triliun. Jika dibandingkan dengan bank-bank dengan total aset serupa, saham bank bjb masih lebih murah. Jika dibandingkan PBV industri keuangan, saham BJBR masih terhitung murah karena jauh di bawah rata-rata PBV industri perbankan yakni 3,22.


Sementara jika dibandingkan PBV rata-rata industri keuangan yang termasuk dalam Indeks saham sektor keuangan (JAKFIN), PBV bank bjb pun masih di bawahnya. Pada 2019 rata-rata PBV industri keuangan pada indeks tersebut yakni 2,05.

Sebagai informasi, harga saham BJBR terkoreksi sekitar 50% dalam setahun terakhir. Adapun sejak awal tahun saham ini sudah terkoreksi sekitar 11,81%

Selain memiliki PBV di bawah industri, BJBR juga menjadi salah satu emiten yang konsisten membagikan dividen, terhitung dari 2015-2018, bank bjb menebar dividen payout ratio (DPR) di kisaran 55-60% dengan kisaran Rp 800 miliar.

Hingga November 2019, Bank bjb mencapai laba bersih Rp 1,3 triliun, sedikit terkoreksi dibandingkan periode yang saham tahun sebelumnya.
Jika bank bjb mencapai targetnya mencapai laba bersih Rp 1,6 triliun, dan kisaran dividen masih 55-60%, maka potensi dividen mencapai Rp 880-960 miliar.

Hingga November BJBR pun mencatat total aset mencapai Rp 120,99 triliun. Selain itu kas BJBR hingga November mencapai Rp 1,98 triliun dan penempatan pada bank Indonesia senilai Rp 10,33 triliun.

Sebelumnya, Direktur Utama Bank bjb Yuddy Renaldi menargetkan laba akhir 2019 mencapai Rp 1,6 triliun hingga Rp 1,7 triliun. Target tersebut akan diraih dengan sejumlah strategi termasuk perbaikan kualitas kredit.

"Kami Menjaga kualitas kredit dan memperbaiki kualitas kredit," kata Yuddy Renaldi, saat konferensi pers usai Analyst Meeting di Pacific Place, Jakarta, Rabu (30/10/2019).

Tak hanya itu, dia juga mengatakan akan melakukan penyehatan serta penyelesaian sejumlah kredit, sehingga bisa menjadi tambahan bagi porsi laba. Bank bjb juga akan melakukan ekspansi kredit khususnya untuk segmen tertentu.


Dia menambahkan, peningkatan laba juga didukung oleh tambahan fee based income sampai akhir tahun dengan dukungan dari IT. Bank bjb juga akan menggenjot porsi laba melalui transaksi treasury.

"Ini enginenya terus kita gerakkan, mendorong langkah-langkah yang sudah menjadi pipeline sampai akhir tahun," tegasnya.


(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading