Rekor Tertinggi 6 Tahun, Goldman: Emas Lebih Baik dari Minyak

Market - Redaksi, CNBC Indonesia
07 January 2020 09:16
Rekor Tertinggi 6 Tahun, Goldman: Emas Lebih Baik dari Minyak
Jakarta, CNBC Indonesia - Serangan serangan militer Amerika Serikat (AS) yang menewaskan pemimpin militer Iran, Jenderal Qasem Soleimani berdampak besar pada harga emas. Dalam beberapa hari terakhir, harga emas menguat signifikan karena khawatir ancaman resesi dunia.

Sepanjang 2019, harga emas di pasar spot tercatat menguat 17,9%. Jika periode tersebut diteruskan hingga hari ini, maka penguatan emas mencapai 22,8%.

Pada perdagangan kemarin, harga emas mencapai titik tertinggi dalam enam tahun pada level US$ 1.575,41/troy ons (Oz). Padahal di 2016, harga emas sempat menyentuh harga di bawah US$ 1.100/troy ons.

Faktor pemicu utama naiknya harga emas di sepanjang 2019 apalagi kalau bukan perang dagang antara AS-China. Perang dagang yang bergulir dalam kurun waktu 18 bulan telah melukai ekonomi global.


Ketika kondisi ekonomi dan politik global berkecamuk, emas sebagai aset minim risiko memang banyak diburu. Akibatnya harga jadi melambung.

Itulah yang terjadi di sepanjang tahun 2019. Namun jelang Natal, Washington dan Beijing berikan kado berupa kabar gembira. Keduanya sepakati perjanjian dagang fase satu.

Kabarnya seremoni penandatanganan dokumen setebal 86 halaman tersebut akan dilakukan di Gedung Putih pada 15 Januari nanti. Kabar tersebut bukannya membuat harga emas tertekan justru malah mendekati level psikologis US$ 1.500/troy ons. Pasalnya detail poin kesepakatan antara keduanya masih belum jelas.

Sementara pasar masih menunggu kejelasan serta kelanjutan hubungan dagang AS-China, dunia kembali dihebohkan dengan ancaman perang AS-Iran.

Akhir pekan lalu, jenderal militer Iran Quds Force Qassem Soleimani dikabarkan tewas bersama wakil komandan Popular Mobilization Force (PMF) Abu Mahdi al-Muhandis dalam serangan yang diluncurkan AS di Bandara Internasional Baghdad.

Perintah serangan tersebut merupakan arahan dari Presiden AS Donald Trump guna melindungi personel militer AS. Kabar tersebut diungkapkan melalui keterangan resmi Pentagon.

Trump mengancam jika Iran melakukan aksi retaliasi, dirinya tak segan menyerang 52 target sebagai balasan. Iran tak tinggal diam. Melalui Menteri Luar Negerinya, Mohammad Javad Azari-Jahromi Iran mengutuk keras tindakan AS.

Dia juga menyebut Trump seperti teroris layaknya ISIS dan Nazi. "Seperti ISIS, seperti Hitler, seperti Jenghis!," tulis Menteri Informasi dan Telekomunikasi Mohammad Javad Azari-Jahromi dalam akun Twitternya, Minggu (6/1/2020).

Sementara pimpinan revolusioner Iran Ayatollah Sayyed Ali Khameini tidak akan tinggal diam dan akan melakukan serangan balasan. Kekhawatiran bahwa perang akan berkecamuk membuat emas masih dilirik dan diburu.

Di sisi lain, kemungkinan The Fed tidak menaikkan suku bunga acuan juga semakin menguatkan harga emas. Walau ekonomi AS mengalami perlambatan, bank sentral AS The Fed masih melihat fundamental ekonomi Paman Sam yang masih kokoh dan penurunan suku bunga yang dilakukan pada 2019 bukan merupakan periode penurunan terus menerus. Sehingga, ini bisa menjadi senjata bagi sentimen positif untuk harga emas.

Di tengah meningkatnya ketegangan AS-Iran, emas mungkin memiliki nilai lebih kuat dibandingkan minyak. Hal ini setidaknya ditegaskan ahli strategi komoditas Goldman Sachs.

Goldman memperkirakan butuh 'gangguan' yang signifikan guna mempertahankan harga minyak di kisaran US$ 69 per barel.


"Skenario potensial sangat besar, (bisa saja) mencakup pasokan minyak atau bahkan peniadaan permintaan minyak, yang akan mempengaruhi terhadap harga minyak," kata Kepala Riset Komoditas Global Jeffrey Currie, seperti dilansir dari CNBC Internasional, Selasa (07/01/2020).

Ini berbeda dengan harga emas. "Sebaliknya, sejarah menunjukkan bahwa di bawah sebagian besar hasil, emas kemungkinan akan reli jauh melampaui level saat ini," tegasnya.


[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading