Transaksi Susut Rp 4,17 T, Karena Penggoreng Saham Disikat?

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
02 January 2020 17:06
Secara nilainya, jumlah dana yang berputar di pasar saham Indonesia pada hari ini hanyalah Rp 4,17 triliun.
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan pertama di tahun 2020, Kamis (2/1/2020), di zona hijau. Pada pembukaan perdagangan, IHSG naik 0,22% ke level 6.313,13.

Sayang, per akhir sesi satu IHSG justru berada di zona merah. Per akhir sesi satu, indeks saham acuan di Indonesia tersebut melemah 0,45% ke level 6.271,11. Per akhir sesi dua, koreksi IHSG adalah sebesar 0,25% ke level 6.283,58.

Perdagangan pada hari ini berlangsung dengan sangat sepi. Melansir data RTI, volume transaksi pada hari ini hanyalah sebanyak 5,3 miliar unit saham. Padahal menurut data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), rata-rata volume transaksi harian di sepanjang tahun 2019 mencapai 14,54 miliar unit saham.

Secara nilainya, jumlah dana yang berputar di pasar saham Indonesia pada hari ini hanyalah Rp 4,17 triliun, jauh di bawah rata-rata nilai transaksi harian di sepanjang tahun 2019 yang mencapai Rp 9,11 triliun.


Sebelumnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat pembukaan perdagangan awal tahun meminta BEI dan OJK membersihkan aktivitas goreng-menggoreng saham. Jokowi tampaknya benar-benar gerah dengan aksi goreng-menggoreng dan manipulasi di industri pasar modal Indonesia. Untuk itu, Jokowi mencanangkan pada 2020 menjadi tahun bersih-bersih pasar modal dari manipulator.

Jokowi menilai pasar modal Indonesia harus benar-benar transparan, terpercaya dan valid. Hal tersebut penting dilakukan untuk

"Kita harus bangun. Harus bangun ekosistem yang baik. 2020 saya harapkan bisa jadi momentum untuk canangkan tahun pembersihan pasar modal dari manipulator. Yang sering memanipulasi yang enggak benar dipoles-poles jadi benar. Yang 100 dipoles-poles jadi 4 ribu. Hati-hati. Bersihkan dan hentikan ini!" tegas Jokowi, saat membuka perdagangan awal tahun di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (2/1/2020).

Selain itu, dampak dari dencana banjir yang menerpa berbagai wilayah di Indonesia dalam dua hari terakhir, khususnya wilayah Jabodetabek (Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi), juga dicurigai sebagai faktor utama di balik rendahnya volume dan nilai transaksi pada hari ini, di samping juga kemungkinan bahwa masih banyak pelaku pasar yang menikmati masa liburannya sehingga belum melakukan transaksi.

Sejak kemarin (1/1/2020), banjir melanda berbagai titik di wilayah Jabodetabek pasca hujan deras yang terjadi di malam tahun baru hingga awal tahun 2020. Kemarin malam, hujan deras kembali mengguyur wilayah Jabodetabek sehingga banjir tak kunjung surut.

Hingga kemarin malam, Kementerian Sosial menyampaikan bahwa jumlah korban meninggal akibat bencana banjir di wilayah Jabodetabek mencapai 26 orang. Korban meninggal paling banyak berlokasi di Kabupaten Bogor, yaitu sebanyak 11 orang.

[Gambas:Video CNBC]


Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengingatkan bahwa prakiraan potensi hujan lebat awal tahun di wilayah Jabodetabek masih akan berlangsung hingga tujuh hari ke depan.

Hal itu disampaikan Dwikorita dalam Rapat Koordinasi Banjir Jabodetabek di Kantor BNPB, seperti dikutip dari siaran pers BMKG, Jakarta, Kamis (2/1/2020).

"Potensi hujan lebat 2-7 januari di Jabodetabek," kata Dwikorita.

TIM RISET CNBC INDONESIA
Artikel Selanjutnya

Dibanggakan Jokowi, Begini Fakta IPO di Bursa Efek Indonesia


(ank/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading