Tampil Beda, Bursa Asia Merah tapi IHSG Mantap di Jalur Hijau

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
16 December 2019 09:23
Tampil Beda, Bursa Asia Merah tapi IHSG Mantap di Jalur Hijau
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka flat di level 6.197,31 pada perdagangan pertama di pekan ini, Senin (16/12/2019). Pada pukul 09:15 WIB, IHSG menguat 0,39% ke level 6.221,49.

Kinerja IHSG berbanding terbalik dengan mayoritas bursa saham utama kawasan Asia yang sedang ditransaksikan di zona merah. Hingga berita ini diturunkan, indeks Nikkei turun 0,13%, indeks Shanghai jatuh 0,08%, dan indeks Hang Seng melemah 0,05%.

Bursa saham Benua Kuning melemah kala ada perkembangan yang positif terkait negosiasi dagang AS-China. Menjelang akhir pekan kemarin, AS dan China mengumumkan bahwa mereka telah berhasil mencapai kesepakatan dagang tahap satu yang sudah begitu dinanti-nantikan pelaku pasar saham dunia.


Dengan adanya kesepakatan dagang tahap satu tersebut, Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana untuk mengenakan bea masuk tambahan terhadap produk impor asal China pada tanggal 15 Desember. Untuk diketahui, nilai produk impor asal China yang akan terdampak oleh kebijakan ini sejatinya mencapai US$ 160 miliar.

Tak sampai di situ, Trump mengatakan bahwa bea masuk bagi senilai US$ 120 miliar produk impor asal China yang sebesar 15% nantinya akan dipangkas menjadi 7,5% saja sebagai bagian dari kesepakatan dagang tahap satu. Di sisi lain, China membatalkan rencana untuk mengenakan bea masuk balasan yang sedianya disiapkan guna membalas bea masuk dari AS pada hari Minggu.

Masih sebagai bagian dari kesepakatan dagang tahap satu, China akan meningkatkan pembelian produk agrikultur asal AS secara signifikan. Trump menyebut bahwa China akan segera memulai pembelian produk agrikultur asal AS yang jika ditotal akan mencapai US$ 50 miliar.

Sebagai catatan, hingga kini teks kesepakatan dagang tahap satu antara AS dan China belum ditandatangani. Menurut Kepala Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer, kedua negara berencana untuk memformalisasi kesepakatan dagang tahap satu tersebut pada pekan pertama Januari 2020.

Adanya ketidakpastian yang menyelimuti kesepakatan dagang tahap satu antara AS dan China tampak menjadi faktor yang membuat pelaku pasar memilih memasang posisi defensif. Walaupun Trump menyebut bahwa nilai pembelian produk agrikultur oleh China akan mencapai US$ 50 miliar, pihak Beijing yang diwakili oleh Wakil Menteri Pertanian dan Pedesaan Han Jun hanya menyebut bahwa mereka akan meningkatkan pembelian produk agrikultur asal AS secara signifikan, tanpa menyebut jumlahnya.

Dari dalam negeri, pelaku pasar saham tanah air kini menantikan rilis data perdagangan internasional periode November 2019 yang rencananya akan dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada pukul 11:00 WIB.

Konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan ekspor terkontraksi atau tumbuh negatif 2,05% secara tahunan, sementara impor diproyeksikan terkontraksi 13,41% secara tahunan. Alhasil, neraca perdagangan diperkirakan membukukan defisit senilai US$ 132 juta.

Jika benar ekspor November masih merah, maka akan menandai kontraksi selama 13 bulan beruntun. Sementara untuk impor, jika pada bulan November benar terjadi kontraksi, maka akan menandai kontraksi yang kelima secara beruntun.

Dengan melihat fakta bahwa bursa saham regional sedang melaju di zona merah, beserta dengan besarnya potensi bahwa rilis data perdagangan internasional periode November 2019 akan membawa kekecewaan, patut diwaspadai bahwa IHSG akan segera berbalik arah ke zona merah.

TIM RISET CNBC INDONESIA (ank/ank)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading