Suspensi Dibuka, Saham Ini Kena Auto Reject Bawah! Lah kok?

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
19 November 2019 15:22
Suspensi Dibuka, Saham Ini Kena Auto Reject Bawah! Lah kok?

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham emiten properti PT Forza Land Indonesia Tbk (FORZ) langsung kena penolakan sistem auto reject bawah setelah suspensi sahamnya dibuka oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) pada sesi I Selasa ini (19/11/2019), usai dilakukan penghentian sementara pada perdagangan Senin kemarin.

BEI melakukan suspensi saham FORZ pada Senin kemarin karena harga saham Forza ambles signifikan sehingga BEI perlu melakukan cooling down.

Saat dibuka tadi pagi hingga perdagangan siang ini, data perdagangan BEI mencatat saham FORZ ambles hingga menyentuh batas bawah penolakan sistem yakni minus 24,63% di level Rp 202/saham.



Nilai transaksi mencapai Rp 596,48 juta dengan volume perdagangan 2,92 juta saham. Dengan rentang harga Rp 200-5.000/saham, maka batasan maksimal naik dan turun atau auto reject dalam sehari yakni 25%.

Hanya saja, menariknya, investor asing justru masuk hari ini di saham Forza yakni sebesar Rp 22,49 juta. Secara year to date, asing keluar (net sell) dari saham ini mencapai Rp 20,08 miliar.

Sepekan terakhir, saham Forza terkoreksi hingga 47,40% dan year to date minus 78%.

Pembukaan suspensi saham FORZ bersamaan dengan saham PT Sentra Mitra Informatika Tbk (LUCK). Kedua saham emiten juga sama-saham disuspensi BEI kemarin karena harga sahamnya kompak terkoreksi dalam.

Saat dibuka hingga siang ini, saham LUCK juga minus 4,47% di level Rp 470/saham. Year to date, saham LUCK minus 68%.


Kadiv Pengawasan Transaksi BEI, Lidia M Panjaitan, dan P.H Kadiv Pengaturan dan Operasional Perdagangan BEI, Martin Satria D Bako, mengatakan suspensi untuk Forza dan LUCK pada Senin kemarin dilakukan sehubungan dengan terjadinya penurunan harga kumulatif yang signifikan sehingga perlu adanya cooling down.

"Suspensi dilakukan untuk memberikan waktu yang memadai bagi pelaku pasar untuk mempertimbangkan secara matang berdasarkan, informasi yang ada dalam setiap pengambil keputusan investasi," tegas keduanya dalam keterbukaan informasi BEI, Senin kemarin.

"Para pihak yang berkepentingan diharapkan untuk selalu memperhatikan keterbukaan informasi yang disampaikan oleh emiten terkait.

Forza adalah emiten yang bergerak di bidang pembangunan, pengelolaan dan perdagangan real estate atau properti, sementara Sentral Mitra bergerak di bisnis solusi teknologi informasi.

Hingga saat ini belum ada pernyataan manajemen terkait dengan suspensi yang terjadi kemarin. Mengacu laporan keuangan Forza per September 2019, pemegang saham Forza yakni PT Forza Indonesia 16,95%, Freddy Setiawan 20,45%, PT Narada Capital Indonesia 7,12%, dan publik 55,48%. Total saham Narada Indonesia mencapai 141.243.300 saham atau setara dengan Rp 37,85 miliar.

Sebelumnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah menghentikan penjualan (suspensi) dua reksa dana milik PT Narada Aset Manajemen oleh agen penjual reksa dana (Aperd) dengan dasar adanya gagal bayar efek (default) saham senilai Rp 177,78 miliar.

Dalam surat tertanggal 13 November 2019 bernomor S-1387/PM.21/2019 itu yang diperoleh CNBC Indonesia, gagal bayar Narada atas pembelian beberapa transaksi efek saham diketahui dari aksi pengawasan pada 7 November silam.

"Sehingga mengakibatkan beberapa perusahaan efek mengalami kesulitan likuiditas dan dana modal kerja bersih disesuaikan [MKBD] menjadi turun," demikian bunyi surat OJK yang ditandatangani oleh Yunita Linda Sari, Kepala Departemen Pengawasan Pasar Modal 2A OJK. Surat itu tertanggal 13 November.

Mengacu situs resminya, Narada Aset Manajemen (sebelumnya PT Narada Kapital Indonesia) adalah perusahaan manajemen investasi yang didirikan dan berkedudukan di Jakarta pada tahun 2012 dan telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari BAPEPAM-LK (kini OJK).

Forza Land melantai di BEI pada 28 April 2017. Dengan harga penawaran Rp 220, Forza Land meraup dana Rp 68,75 miliar.


Analis proyeksikan IHSG bisa rebound di akhir tahun

[Gambas:Video CNBC]



(tas/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading