Great Sale Lagi! Simak Deretan Saham Konsumer Murah Meriah

Market - Dwi Ayuningtyas, CNBC Indonesia
19 November 2019 14:56
Great Sale Lagi! Simak Deretan Saham Konsumer Murah Meriah
Jakarta, CNBC Indonesia - Saham-saham sektor barang konsumsi atau konsumer (consumer goods) merupakan kategori saham yang cukup diminati oleh investor. Hal ini mengingat bisnis inti perusahaan menawarkan produk yang umumnya merupakan konsumsi sehari-hari masyarakat, sehingga dari sisi fundamental (pemasukan) lebih menjanjikan.

Tak hanya itu, besarnya ketertarikan pelaku pasar juga dapat terlihat dari kontribusi indeks sektor konsumen terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dengan bobot sekitar 19,1%.

Sayangnya, sepanjang tahun, hingga penutupan perdagangan Senin kemarin (18/11/2019) indeks sektor konsumen membukukan imbal hasil negatif 19,8%.


Akan tetapi, tidak ada salahnya untuk tetap mengkoleksi saham-saham yang masuk kategori indeks sektor konsumer, apalagi jika horizon investasi Anda jangka panjang.


Mengacu data Bursa Efek Indonesia (BEI), dari sekitar lebih dari 70 saham yang terdaftar dalam indeks tersebut, 5 saham yang menduduki posisi teratas dari sisi kapitalisasi pasar terbesar termasuk PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT H M Sampoerna Tbk (HMSP), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Gudang Garam Tbk (GGRM), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).

Nah, dengan mempertimbangkan harga saham dan kinerja fundamental perusahaan, apakah saham kelima emiten tersebut masih layak dikoleksi oleh pelaku pasar?

Mari kita lihat dahulu seberapa mahal atau murah saham tersebut.

Salah satu alat ukur yang biasanya digunakan sebagai indikator oleh investor dan analis saham untuk mengevaluasi harga saham perusahaan adalah price-earning-ratio/PER.

PER adalah salah satu bentuk analisis fundamental dengan cara membagi harga saham saat ini dengan keuntungan tahunan per saham.

Perhitungan ini mengimplikasikan berapa harga yang bersedia dibayarkan oleh pasar hari ini berdasarkan perolehan pendapatan perusahaan.

Saham dikatakan relatif mahal (overvalued) ketika PER-nya lebih besar dibanding PER Industri. Sebaliknya emiten disebut relatif murah (undervalued) ketika nilai PER-nya lebih rendah dibanding PER industri. Perlu diingat, jika perusahaan mencatatkan kerugian, maka PER tidak dapat dihitung.

Kode

Perusahaan

Market Cap (Triliun Rp)

PER (x)

Imbal Hasil (% YTD)

UNVR

PT Unilever Indonesia Tbk

321.60

43.78

-9.16

HMSP

PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk

239.62

17.62

-45.36

ICBP

PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk

132.95

25.66

9.62

GGRM

PT Gudang Garam Tbk

102.27

10.59

-36.59

INDF

PT Indofood Sukses Makmur Tbk

70.02

14.87

9.62



Sebagai informasi perolehan PER untuk industri consumer goods berada di level 95,04 kali. Berdasarkan angka tersebut, maka saham para jawara sektor konsumen terbilang relatif murah, dengan GGRM mencatatkan nilai PER terendah yakni 10,59 kali.


Namun, patut disayangkan bahwa saham produsen rokok tersebut sepanjang tahun ini justru bergerak ke selatan karena anjlok 36,59%.

Sementara itu, saham emiten Group Salim, yakni INDF dan anak usahanya ICBP, lebih unggul karena tidak hanya mencatatkan PER yang relatif murah, tapi harga sahamnya juga mencatatkan cuan.

Di lain pihak, di luar para jawara sektor konsumer, jika menilik kinerja keseluruhan saham yang ada di sektor konsumen, berikut adalah 5 saham dengan valuasi harga yang relatif mahal dan relatif murah:


Foto: Dwi Ayuningtyas

PT Wilmar Cahaya Indonesia Tbk (CEKA) menjadi emiten dengan valuasi harga saham termurah, di mana nilai PER perusahaan produsen cokelat yang punya pabrik di Bekasi ini, senilai 5,34 kali. Terlebih lagi, sepanjang tahun ini, harga saham perusahaan mencatatkan kenaikan 40,81%. Saham CEKA pada Selasa ini (19/11/) minus 0,64% di level Rp 1.560/saham.

Sebaliknya, PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk (BTEK) menjadi emiten dengan harga saham yang relatif paling mahal, dengan nilai PER emiten biji kakao ini mencapai 2.500 kali. Saham BTEK stagnan di level Rp 50/saham.


TIM RISET CNBC INDONESIA

 
(dwa/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading