Kabar Gembira dari Inggris Tak Lagi Bertaji, Bursa Asia Jatuh

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
13 November 2019 16:51
Seluruh bursa saham utama kawasan Asia menutup perdagangan ketiga di pekan ini, Rabu (13/11/2019), di zona merah.
Jakarta, CNBC Indonesia - Seluruh bursa saham utama kawasan Asia menutup perdagangan ketiga di pekan ini, Rabu (13/11/2019), di zona merah.

Pada penutupan perdagangan, indeks Nikkei turun 0,85%, indeks Shanghai melemah 0,33%, indeks Hang Seng ambruk 1,82%, indeks Straits Times terkoreksi 0,87%, dan indeks Kospi berkurang 0,86%.

Bursa saham Benua Kuning harus pasrah ditutup melemah setelah sudah menghijau pada perdagangan kemarin (12/11/2019), di mana indeks Nikkei naik 0,81%, indeks Shanghai menguat 0,17%, indeks Hang Seng terapresiasi 0,52%, indeks Straits Times terkerek 0,84%, dan indeks Kospi bertambah 0,79%.


Kabar gembira yang datang dari Inggris tak lagi mampu mengerek kinerja bursa saham Benua Kuning.

Pada hari Senin (11/11/2019), pembacaan awal untuk angka pertumbuhan ekonomi Inggris periode kuartal III-2019 diumumkan di level 0,3% secara kuartalan. Lantas, Inggris resmi terhindar dari resesi.

Kabar Gembira dari Inggris Tak Lagi Bertaji, Bursa Asia JatuhFoto: Protes Depan Mahkamah Agung Inggris di London Pasca Pengunduran Parlemen (17/09/19) (REUTERS/Toby Melville)

Untuk diketahui, pada kuartal II-2019 perekonomian Inggris terkontraksi 0,2% secara kuartalan. Jika pada kuartal III-2019 masih terjadi kontraksi, maka Inggris akan resmi memasuki periode resesi.

Sebagai informasi, resesi merupakan penurunan aktivitas ekonomi yang sangat signifikan yang berlangsung selama lebih dari beberapa bulan, seperti dilansir dari Investopedia. Sebuah perekonomian bisa dikatakan mengalami resesi jika pertumbuhan ekonominya negatif selama dua kuartal berturut-turut.

Melansir World Economic Outlook edisi April 2019 yang dipublikasikan oleh International Monetary Fund (IMF), Inggris merupakan negara dengan nilai perekonomian terbesar kelima di dunia. Alhasil, lolosnya Inggris dari periode resesi praktis menjadi kabar positif bagi perekonomian dunia.


Memanasnya hubungan antara AS dan China di bidang perdagangan menjadi faktor yang memantik aksi jual di bursa saham Asia pada perdagangan hari ini.

Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa AS akan menaikkan bea masuk bagi produk impor asal China secara signifikan jika kesepakatan dagang tahap satu tak bisa diteken.

"Jika kami tak mencapai kesepakatan, kami akan secara signifikan menaikkan bea masuk tersebut," kata Trump dalam pidatonya di hadapan para peserta Economic Club of New York.

"Bea masuk akan dinaikkan dengan sangat signifikan. Hal ini akan berlaku untuk negara-negara lain yang juga memperlakukan kita dengan tidak benar," tambahnya.

Untuk diketahui, sebelumnya pelaku pasar begitu optimistis bahwa AS dan China akan segera meneken kesepakatan dagang tahap satu. Optimisme ini hadir menyusul pengumuman dari pihak China bahwa mereka telah mencapai kesepakatan dengan AS untuk menghapuskan bea masuk tambahan yang sudah dikenakan oleh masing-masing negara selama perang dagang berlangsung, seperti dilansir dari CNBC International.


Juru Bicara Kementerian Perdagangan China Gao Feng mengabarkan bahwa kedua belah pihak telah setuju untuk secara bersama-sama menghapuskan bea masuk yang menyasar produk impor dari masing-masing negara senilai ratusan miliar tersebut. Penghapusan bea masuk disebut China akan dilakukan secara bertahap.

Dirinya lalu menambahkan bahwa kedua belah pihak kini telah semakin dekat untuk menandatangani kesepakatan dagang tahap satu, menyusul negosiasi yang konstruktif dalam dua pekan terakhir.

Namun, pihak AS membantah klaim dari China tersebut. Penasehat Perdagangan Gedung Putih Peter Navarro menegaskan bahwa pihak AS tak pernah menyepakati hal tersebut dengan China. Navarro pun menilai China tengah melakukan upaya propaganda.

"Tidak ada kesepakatan untuk saat ini yang menghapuskan semua tarif yang diberlakukan sebagai kondisi untuk kesepakatan dagang fase pertama," tegas Navarro dalam wawancara dengan Fox Business Network, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (8/11/2019).

"Mereka hanya bernegosiasi di ranah publik dan tengah mencoba mendorong (kesepakatan) ke satu arah." tambah Navarro.

Trump kemudian menjadi pihak yang ikut membantah klaim dari pihak China. Menjelang akhir pekan kemarin, Trump mengatakan bahwa dirinya belum setuju untuk menghapuskan bea masuk tambahan yang diberlakukan Washington terhadap produk impor asal China.

"Mereka ingin ada penghapusan. Saya belum menyetujui apapun," kata Trump pada hari Jumat waktu setempat (8/11/2019), dilansir dari CNBC International.

Dengan ancaman terbaru yang ditebar oleh Trump kepada China, praktis pelaku pasar menjadi semakin skeptis bahwa kesepakatan dagang tahap satu antar kedua negara akan bisa diteken.

Untuk diketahui, sejauh ini AS telah mengenakan bea masuk tambahan bagi senilai lebih dari US$ 500 miliar produk impor asal China, sementara Beijing membalas dengan mengenakan bea masuk tambahan bagi produk impor asal AS senilai kurang lebih US$ 110 miliar.

TIM RISET CNBC INDONESIA


(ank/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading