Musim Window Dressing Tiba, Saham Apa Saja jadi Pilihan?

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
12 November 2019 13:40
Musim Window Dressing Tiba, Saham Apa Saja jadi Pilihan?
Jakarta, CNBC Indonesia - Menjelang tutup tahun 2019, aksi window dressing atau upaya mempercantik portfolio investasi menjadi strategi yang dilakukan perusahaan maupun manajer investasi.

Chief Investment Officer KISI Asset Management Susanto Chandra berpendapat, aksi window dressing biasanya dilakukan manajer investasi pada saham-saham dari perusahaan dengan nilai kapitalisasi (market capitalization) besar di Bursa Efek Indonesia.

Sektor yang direkomendasikan antara lain saham-saham perbankan buku empat seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBRI).

Selain itu, saham-saham di sektor telekomunikasi seperti PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT XL Axiata Tbk (EXCL), PT Indosat Tbk (ISAT) dan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) juga direkomendasikan.


"Window dressing kalau lihat kapitalisasi yang besar harusnya perbankan, telco, mayoritas di sana," ucap Susanto Chandra kepada CNBC Indonesia, Selasa (12/11/2019) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta.

Susanto menjelaskan, aksi window dressing akan dilakukan sejalan optimisme negosiasi dagang antara Amerika Serikat dengan China. Dengan meredanya perang dagang, hal ini akan menciptakan sentimen yang positif bagi pasar, sehingga investor asing bisa masuk kembali ke aset berisiko seperti saham.

"Kalau China dan AS sepakat, harusnya animo investor lebih positif," terang dia.

KISI Asset Management memproyeksikan, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga penghujung tahun ini akan berada di level 6.400. Katalis yang menjadi pendorongnya adalah kian derasnya aliran modal asing ke Indonesia dan terobosan positif dari program kerja menteri Jokowi periode 2019-2024.

Sementara itu, secara terpisah Presiden Direktur Trimegah Sekuritas Trimegah Sekuritas memproyeksikan, bursa saham domestik akan bergerak stabil di level 6.200-6.300 hingga akhir tahun ini. Penguatan IHSG cenderung terbatas, namun risiko aksi jual pelaku pasar asing (net sell) masih membayangi.

Data perdagangan BEI sejak awal tahun hingga Selasa, 12 November 2019 mencatat, imbal hasil IHSG masih terkoreksi 0,81%. Periode yang sama, investor asing membukukan aksi jual bersih Rp 21,68 triliun.

"Kita melihat tidak banyak bertambah di level 6.200-6.300, tidak ada kenaikan lagi, IHSG cukup stabil," ungkap Stephanus di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (30/10/2019).

Trimegah Sekuritas mencermati, sektor-sektor yang masih menjadi penopang bagi IHSG hingga akhir tahun ini adalah sektor keuangan dan konsumer.

Diutarakan Stephanus, sektor keuangan akan mendapat katalis positif penurunan suku bunga acuan yang mungkin akan berlanjut oleh Bank Indonesia (BI). Langkah BI tersebut diharapkan bisa mengakselerasi pertumbuhan ekonomi domestik dan mengantisipasi perlambatan ekonomi global.

Namun, dia mengingatkan, biasanya menjelang akhir tahun pelaku pasar cenderung melakukan aksi ambil untung (profit taking) dan window dressing. "Seperti biasa kadang akhir tahun ada proft taking dan window dressing. Penutupan akhir tahun, rasanya akhir tahun ini cukup stabil, tidak ada penurunan lagi," pungkasnya.
(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading