Hong Kong Mencekam, Asing Obral Saham di Bursa RI Rp 110 M

Market - Houtmand P Saragih, CNBC Indonesia
11 November 2019 12:41
Hong Kong Mencekam, Asing Obral Saham di Bursa RI Rp 110 M
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar saham domestik tampaknya masih tak kuasa menahan tekanan jual yang terjadi hari ini, Senin (11/11/2019). Investor asing tercatat kembali mengobral saham-saham dari bursa saham domestik, setelah menyimak perkembangan di Hong Kong yang semakin memanas.

Data perdagangan mencatat, asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp 110,21 miliar di seluruh pasar. Sementara di pasar reguler tercatat nilai net sell asing sebesar Rp 106,26 miliar.

Saham-saham yang paling banyak di lepas investor asing pada perdagangan sesi I antara lain, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) senilai Rp 83,12 miliar. Lalu saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) senilai Rp 6,42 miliar, saham PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) senilai Rp 6,17 miliar.



Lalu saham PT Surya Cipta Media Tbk (SCMA) senilai Rp 5,51 miliar dan saham PT Astra International Tbk (ASII) senilai Rp 5,25 miliar.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga melemah 0,6% ke level 6.141,02. Sejalan dengan bursa saham Asia lainnya.

Pemicu dari kehancuran pasar saham Asia hari ini adalah, gejolak di Hong Kong yang semakin memanas. Ini menyebabkan perekonomian Hong Kong amburadul ikut membuat pelaku pasar saham Asia memasang posisi defensif.

Beberapa waktu yang lalu, Departemen Sensus dan Statistik Hong Kong merilis pembacaan awal untuk data pertumbuhan ekonomi periode kuartal III-2019.

Pada 3 bulan ketiga tahun ini, perekonomian Hong Kong diketahui membukukan kontraksi sebesar 3,2% secara kuartalan (quarter-on-quarter/QoQ).

Sebagai informasi, resesi merupakan penurunan aktivitas ekonomi yang sangat signifikan yang berlangsung selama lebih dari beberapa bulan, seperti dilansir dari Investopedia. Sebuah perekonomian bisa dikatakan mengalami resesi jika pertumbuhan ekonominya negatif selama dua kuartal berturut-turut.

Hong Kong Mencekam, Asing Obral Saham di Bursa RI Rp 110 MFoto: Mahasiswa Hadiri Upacara Penghormatan Chow Tsz-lok, Seorang Mahasiswa yang Meninggal pada Aksi Protes Hong Kong pada Jumat, 8 November 2019 di Hong Kong (REUTERS/Tyrone Siu)


Lantaran pada kuartal II-2019 perekonomian Hong Kong sudah terkontraksi sebesar 0,4% secara kuartalan, pertumbuhan ekonomi yang kembali negatif secara kuartalan pada kuartal III-2019 resmi membawa Hong Kong mengalami resesi untuk kali pertama sejak tahun 2009, kala krisis keuangan global menerpa.

Aksi demonstrasi besar-besaran yang terjadi di sana selama nyaris 5 bulan sukses menekan laju perekonomian dengan sangat signifikan, seiring dengan terkontraksinya sektor pariwisata dan ritel.

Untuk diketahui, aksi demonstrasi besar-besaran yang dalam beberapa waktu terakhir terjadi di Hong Kong pada awalnya dipicu oleh penolakan terhadap RUU ekstradisi.

Melansir World Economic Outlook edisi April 2018 yang dipublikasikan oleh International Monetary Fund (IMF), Hong Kong merupakan negara dengan nilai perekonomian terbesar ke-35 di dunia.

Walaupun tidak sebesar AS dan China yang kini tengah terlibat perang dagang, tentu posisi Hong Kong di tatanan perekonomian dunia tak bisa dianggap sepele. Hingga kini, aksi demonstrasi di Hong Kong masih saja terjadi sehingga semakin mengancam perekonomiannya.



(hps/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading