Anjlok 5 Hari Beruntun, Euro Kini di Level Terlemah 3 Pekan

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
08 November 2019 21:07
Anjlok 5 Hari Beruntun, Euro Kini di Level Terlemah 3 Pekan Foto: euro (REUTERS/Heinz-Peter Bader)
Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang euro anjlok melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (8/11/19) hingga menyentuh level terlemah dalam tiga pekan terakhir. Hingga hari ini, euro telah melemah dalam lima hari beruntun.

Pada pukul 20:50 WIB, euro diperdagangkan di level US$ 1,1032, melemah 0,15% di pasar spot, melansir data Refinitiv. Dalam lima hari terakhir, euro sudah melemah 1,2%.




Pertumbuhan ekonomi Eropa yang diprediksi akan melambat menjadi penekan utama mata uang 19 negara ini. Dana Moneter International (International Monetary Fund/IMF) memprediksi perekonomian Eropa hanya tumbuh 1,4% di tahun ini, turun jauh dibandingkan dengan tahun lalu yang mencapai 2,3%.

Sementara itu, Komisi Eropa pada Kamis kemarin memprediksi pertumbuhan ekonomi zona euro, yang terdiri dari 19 negara, hanya tumbuh 1,1%, lebih rendah dari prediksi yang diberikan pada bulan Mei sebesar 1,2%.



Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China mendorong Komisi Eropa memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi. Akibat melambatnya pertumbuhan ekonomi, European Central Bank (ECB) sampai harus memangkas suku bunga dan mengaktifkan kembali program pembelian aset (obligasi dan surat berharga) alias quantitative easing (QE).

Pada 12 September lalu, ECB memangkas suku bunga deposito (deposit facility) sebesar 10 basis poin (bps) menjadi -0,5%, sementara main refinancing facility tetap sebesar 0% dan suku bunga pinjaman (lending facility) juga tetap sebesar 0,25%.

Program pembelian aset senilai 20 miliar euro per bulan sudah dimulai 1 November lalu, hal ini juga menjadi salah satu penyebab melemahnya euro. Berdasarkan rilis ECB bulan September lalu, QE kali ini tanpa batas waktu, artinya akan terus dilakukan selama dibutuhkan untuk memberikan stimulus bagi perekonomian zona euro.



Kebijakan ECB pelonggaran moneter tersebut bisa jadi akan lebih agresif mengingat Gubernur ECB kini dijabat oleh Christine Lagarde, mantan Direktur Pelaksana IMF, menggantikan Mario Draghi. Sama dengan Draghi, Lagarde juga dianggap memiliki sikap dovish, yang berarti kebijakan yang akan diambil ECB masih bisa lebih longgar lagi.

TIM RISET CNBC INDONESIA


(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading