Bursa Asia Boncos, Mampukah IHSG Menguat 3 Hari Berturut?

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
30 October 2019 09:23
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan ketiga di pekan ini, Rabu (30/10/2019), di zona hijau.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG menguat 0,33% ke level 6.302,09. Pada pukul 09:15 WIB, indeks saham acuan di Indonesia tersebut membukukan apresiasi sebesar 0,1% ke level 6.287,34. Jika apresiasi IHSG bertahan hingga akhir perdagangan, maka akan menandai apresiasi yang ketiga secara beruntun.

Kinerja IHSG berbanding terbalik dengan mayoritas bursa saham utama kawasan Asia yang justru sedang ditransaksikan di zona merah. Hingga berita ini diturunkan, indeks Nikkei jatuh 0,35%, indeks Shanghai turun 0,54%, indeks Hang Seng melemah 0,56%, dan indeks Kospi terkoreksi 0,64%.


Prospek ditekennya kesepakatan dagang AS-China yang kini menjadi tak jelas menjadi faktor yang melandasi aksi jual di bursa saham Benua Kuning. Melansir Reuters, seorang pejabat pemerintahan AS mengatakan bahwa ada kemungkinan kesepakatan dagang tahap satu antar kedua negara belum akan siap untuk diteken pada bulan depan.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa dirinya optimistis kesepakatan dagang AS-China tahap satu akan bisa ditandatangani dalam gelaran KTT APEC di Chili pada 16-17 November mendatang.

"Saya rasa itu (draf kesepakatan dagang) akan ditandatangani dengan cukup mudah, semoga saja pada saat KTT di Chili, di mana Presiden Xi dan saya akan berada," kata Trump di Gedung Putih.

"Kami bekerja dengan China dengan sangat baik," sambungnya menambahkan.

Maklum jika pelaku pasar kecewa dengan meredupnya prospek terkait kesepakatan dagang AS-China. Pasalnya, kesepakatan dagang AS-China bisa menjadi kunci bagi kedua negara untuk menghindari yang namanya hard landing alias perlambatan pertumbuhan ekonomi yang signifikan.

Belum lama ini, China mengumumkan bahwa perekonomiannya hanya tumbuh di level 6% secara tahunan pada kuartal III-2019, lebih rendah dari konsensus yang sebesar 6,1%, seperti dilansir dari Trading Economics. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2019 juga lebih rendah dibandingkan capaian pada kuartal II-2019 yang sebesar 6,2%.

Untuk diketahui, laju pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2019 yang sebesar 6,2% merupakan laju pertumbuhan ekonomi terlemah dalam setidaknya 27 tahun, seperti dilansir dari CNBC International.

Beralih ke AS, belum lama ini Manufacturing PMI periode September 2019 versi Institute for Supply Management (ISM) diumumkan di level 47,8, jauh di bawah konsensus yang sebesar 50,4, seperti dilansir dari Forex Factory.

Sebagai informasi, angka di atas 50 berarti aktivitas manufaktur membukukan ekspansi jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, sementara angka di bawah 50 menunjukkan adanya kontraksi.

Kontraksi yang terjadi pada bulan September merupakan kontraksi terburuk yang dibukukan oleh sektor manufaktur AS dalam satu dekade terakhir.

Kemudian, Non-Manufacturing PMI periode September 2019 diumumkan oleh ISM di level 52,6, di bawah konsensus yang sebesar 55,1, seperti dilansir dari Forex Factory. Melansir CNBC International, Non-Manufacturing PMI yang sebesar 52,6 tersebut merupakan level terendah yang pernah dicatatkan semenjak Agustus 2016 silam.

BERLANJUT KE HALAMAN 2 -> Hati-hati, Aura Profit Sudah Terasa Sejak Pekan Lalu
Hati-hati, Aura Profit Sudah Terasa Sejak Pekan Lalu
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading