Walau Ekspor Jepang Jeblok, Bursa Asia Tetap Hijau

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
21 October 2019 17:01
Seluruh bursa saham utama kawasan Asia menutup perdagangan hari ini, Senin (21/10/2019), di zona hijau. Foto: REUTERS/Aly Song
Jakarta, CNBC Indonesia - Seluruh bursa saham utama kawasan Asia menutup perdagangan hari ini, Senin (21/10/2019), di zona hijau: indeks Nikkei naik 0,25%, indeks Shanghai menguat 0,05%, indeks Hang Seng terapresiasi 0,02%, indeks Straits Times terkerek 0,8%, dan indeks Kospi bertambah 0,2%.

Bursa saham Benua Kuning menghijau kala rilis data ekonomi Jepang sejatinya tak mendukung untuk melakukan aksi beli. Pada hari ini, ekspor Jepang periode September 2019 diumumkan jatuh 5,2% secara tahunan, lebih dalam ketimbang konsensus yang memperkirakan koreksi sebesar 4% saja, seperti dilansir dari Trading Economics.

Mengingat posisi Jepang selaku negara dengan nilai perekonomian terbesar ketiga di dunia, tentulah tekanan terhadap perekonomian Jepang akan membawa dampak negatif yang signifikan bagi perekonomian dunia.


Sentimen positif bagi bursa saham Benua Kuning datang dari optimisme bahwa perekonomian AS masih tumbuh cukup tinggi. Hal ini dibuktikan oleh rilis kinerja keuangan yang oke dari perusahaan-perusahaan yang melantai di AS.

Melansir CNBC International yang mengutip data dari Factset, sebanyak lebih dari 70 perusahaan yang tergabung dalam indeks S&P 500 mengumumkan kinerja keuangan periode kuartal III-2019 pada pekan lalu. Dari sebanyak lebih dari 70 perusahaan tersebut, 81% membukukan kinerja yang lebih baik dari ekspektasi analis.

Salah satu perusahaan yang membukukan kinerja kinclong adalah J.P. Morgan Chase yang merupakan bank terbesar di AS dari sisi aset.

Pada kuartal III-2019, perusahaan membukukan pendapatan senilai US$ 30,1 miliar, mengalahkan ekspektasi yang senilai US$ 28,5 miliar. Sementara itu, laba bersih per saham tercatat berada di level US$ 2,68, juga di atas ekpektasi yang senilai US$ 2,45.

Lantas, dampak perang dagang dengan China terbukti masih relatif minim bagi perekonomian AS. Untuk diketahui, saat ini justru ada peluang yang cukup besar bahwa AS-China akan mampu meneken kesepakatan dagang.

Seperti yang diketahui, belum lama ini kedua negara menggelar negosiasi dagang tingkat tinggi di Washington.

Dalam negosiasi tingkat tinggi ini, delegasi China dipimpin oleh Wakil Perdana Menteri Liu He, sementara delegasi AS dikomandoi oleh Kepala Kepala Perwakilan Dagang Robert Lighthizer. Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin ikut berpartisipasi dalam delegasi yang dipimpin oleh Lighthizer.

Walau Ekspor Jepang Jeblok, Bursa Asia Tetap HijauFoto: Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin dan Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer menunggu untuk menyambut Wakil Perdana Menteri Tiongkok Liu He di luar kantor Perwakilan Dagang AS di Washington, AS, (9/5/2019). (REUTERS / James Lawler Duggan)

Pasca negosiasi dagang tingkat tinggi selama dua hari tersebut, kedua negara menyetujui kesepakatan dagang tahap satu. Kesepakatan ini akan menjadi jawaban dari kritik AS terhadap China seputar praktik pencurian kekayaan intelektual.

Selain itu, permasalahan defisit neraca dagang AS dengan China juga akan dijawab melalui kesepakatan dagang tahap satu, seiring dengan dimasukannya komitmen China untuk membeli produk agrikultur asal AS senilai US$ 40 miliar hingga US$ 50 miliar.


Sebagai gantinya, AS setuju untuk membatalkan pengenaan bea masuk baru bagi produk impor asal China yang sedianya akan dieksekusi pada pekan ini.

Memang, pelaku pasar sempat dibuat ragu bahwa AS dan China akan benar-benar menandatangani kesepakatan dagang tahap satu yang sudah disetujui secara lisan oleh keduanya dalam negosiasi tingkat tinggi di Washington.

Melansir CNBC International, seorang sumber menyebut bahwa China ingin bernegosiasi lebih lanjut dengan AS sebelum meneken kesepakatan dagang tahap satu antar kedua negara. Sumber tersebut kemudian menyebut bahwa Wakil Perdana Menteri China Liu He bisa dikirim ke Washington sebelum akhir bulan ini guna meluruskan poin-poin dalam kesepakatan dagang tahap satu yang masih mengganjal di hati pihak China.

Namun, Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin kemudian membawa angin segar dengan membantah pemberitaan tersebut. Dirinya membantah bahwa China belum setuju dengan isi dari kesepakatan dagang tahap satu antar kedua negara.

Mnuchin justru mengungkapkan bahwa negosiator dagang dari AS dan China kini tengah bekerja untuk memfinalisasikan teks kesepakatan dagang tahap satu untuk kemudian ditandatangani oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping kala keduanya bertemu pada bulan depan dalam gelaran KTT Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC).

TIM RISET CNBC INDONESIA

Artikel Selanjutnya

Ada Angin Segar Seputar Perang Dagang, Bursa Asia Tetap Merah


(ank/tas)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading