Warren Buffett Beri Tanda Resesi, Fund Manager RI Masih Selow

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
15 October 2019 14:23
Warren Buffett Beri Tanda Resesi, Fund Manager RI Masih Selow
Jakarta, CNBC Indonesia - Manajer investasi di tanah air merespons sinyal kewaspadaan dari fund manager global setelah investor saham global ternama, Warren Buffett, mencairkan 60% dari portofolio investasi dalam bentuk tunai. Manajer investasi menyebut sikap Buffet tersebut belum mengindikasikan adanya resesi ekonomi di Amerika Serikat.

Direktur Panin Asset Management Rudiyanto menjelaskan, sebetulnya isu mengenai resesi di AS sudah dibahas sejak tahun lalu, dan hingga kini belum ada tanda-tanda resesi akan terjadi. Artinya, ekonomi AS masih kuat.

Ia juga menyebut, sikap yang diambil "Oracle of Omaha" itu tidak disebabkan karena potensi resesi.


"Filosofi investasi dari Warren Buffet itu lebih kepada valuasi bukan resesi. Kalau dilihat saham-saham di AS mengalami kenaikan signifikan selama beberapa tahun terakhir, hal ini membuat valuasinya menjadi mahal sehingga kemungkinan menjadi penyebab porsi cash lebih besar, bukan karena resesi," ungkap Rudiyanto, saat dihubungi CNBC Indonesia, Rabu (15/10/2019).

Adapun, kata Rudiyanto, strategi yang diterapkan manajer investasi dalam mengantisipasi hal tersebut adalah kembali memperhatikan fundamental perusahaan.

"Kami lebih memperhatikan kinerja laporan keuangan dari emiten yang menjadi aset dasar dan fokus pada perusahaan yang laporan keuangannya menunjukkan peningkatan kinerja atau secara valuasi murah," ungkap Rudiyanto.

Warren Buffett, salah satu investor terkaya di dunia dan dipercaya banyak pengamat kini tengah bertaruh soal kejatuhan pasar modal. Hal ini terlihat dari sejumlah fakta, di mana perusahaannya Berkshire Hathaway yang terdaftar di bursa New York Stock Exchange (NYSE) telah mencairkan hampir 60% dari portopolio investasinya yang dikelola sejak Juni lalu, seperti diwartakan CNN, pekan lalu.

Sikap Warren Buffett tentu dianggap tidak biasa oleh pasar. Buffet tidak pernah membiarkan tumpukan uang tunai hingga US$ 122 miliar (Rp 1.708 triliun) dicairkan begitu saja. Ia biasanya menempatkan uangnya untuk investasi, baik melalui akuisisi, saham, pembelian kembali (buyback) saham.

Pria yang disebut Oracle of Omaha itu pasti memiliki alasan yang tepat atas langkah yang ia lakukan. Di 2008, ia melakukan tindakan serupa dan sukses menyelamatkan uangnya dari krisis yang terjadi di tahun itu. Uang yang dicairkan ini juga kemudian dipinjamankan lagi ke perusahaan yang tengah sekarat seperti Goldman Sachs dan General Electric.

Sikap ini juga diperkirakan tengah diambil Buffet saat ini. "Buffet mengukur kesehatan pasar dengan melihat permodalan [di pasar saham] dibandingkan dengan PDB," tulis CNN.

Dengan ini, dia berhasil menghindar dari dot-com bubble alias gelembung spekulasi perusahaan internet yang pernah melanda bursa saham AS di tahun 1990 hingga 2000-an. Kenaikan saham perusahaan yang berlabel dot-com di bursa AS pada saat itu namun tidak sesuai dengan valuasi fundamentalnya, menyebabkan kekacauan di bursa saham. (hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading