Analisis

Investasi Emas Mulai Tak Menarik, Awas Koreksi Harga Lanjutan

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
14 October 2019 14:07
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia amblas dalam dua perdagangan terakhir, dan belum mampu bangkit di perdagangan hari ini, Senin (14/10/19). Tekanan bagi logam mulia ini datang dari kesepakatan dagang Amerika Serikat (AS) dengan China.

Emas pada pukul 13:18 WIB berada di level US$ 1,487.94/troy ons, melemah 0,1% di pasar spot, berdasarkan data Refinitiv. Sementara dalam dua perdagangan sebelumnya, emas melemah 0,35% dan 1,35%.

Setelah satu tahun lebih AS-China melakukan perang dagang dengan saling menaikkan tarif impor, akhirnya pada Jumat (11/10/19) pekan lalu ada kabar bagus datang dari Washington.


Presiden AS, Donald Trump, bersama Wakil Perdana Menteri China, Liu He, Jumat (11/10/19) waktu Washington mengumumkan jika perundingan kedua negara memberikan hasil "kesepakatan fase satu yang sangat substansial", sebagaimana dilansir CNBC International.



Trump menambahkan "fase dua akan dimulai segera" setelah fase pertama ditandatangani.

Porsi pertama dalam kesepakatan dagang kali ini akan dibuat dalam tiga pekan ke depan, termasuk di dalamnya properti intelektual, jasa keuangan, serta rencana pembelian produk pertanian AS oleh China senilai US$ 40 miliar sampai US$ 50 miliar, kata Trump sebagaimana dilansir CNBC International.

Dengan deal kali ini, artinya bea masuk yang akan dikenakan ke China pada 15 Oktober resmi ditunda, untuk sementara tak ada lagi kenaikan bea importasi dari kedua negara.

Kesepakatan kedua negara menjadi kabar bagus bagi para pelaku pasar. Pertumbuhan ekonomi global diharapkan tumbuh dan ancaman resesi menghilang. Selera terhadap risiko (risk appetite) pelaku pasar meningkat, dan aset-aset berisiko kembali menjadi target investasi, sehingga aset aman (safe haven) seperti emas menjadi kurang menarik.

Deal kedua negara merupakan ujian awal bagi harga emas. Bagaimana respon ekonomi global terhadap deal ini akan menjadi ujian sebenarnya bagi harga emas. Jika kondisi ekonomi global membaik, pertumbuhan ekonomi meningkat, emas perlahan-lahan akan ditinggalkan.

Perang dagang kedua negara merupakan pemicu utama pelambatan ekonomi dunia. Tidak hanya melambat, beberapa negara juga terancam mengalami resesi, termasuk sang Negara Adikuasa.



Pelambatan ekonomi serta ancaman resesi di AS membuat bank sentralnya (Federal Reserve/The Fed) memangkas suku bunga dua kali di tahun ini, dan masih diprediksi akan kembali melakukan pemangkasan di akhir bulan ini.

Data dari piranti FedWatch milik CME Group menunjukkan terhadap probabilitas sebesar 73,2% The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 1,5-1,75% pada 30 Oktober (31 Oktober dini hari WIB). Kebijakan pelonggaran moneter, tidak hanya oleh The Fed, kini menjadi harapan emas untuk bisa kembali menguat.


(BERLANJUT KE HALAMAN 2)



Analisis Teknikal
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading