Newsletter

Kondisi Eksternal Kondusif, Saatnya BI Effect Bekerja!

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
20 September 2019 06:34
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar finansial dalam negeri bergerak variatif pada perdagangan Kamis (19/9/19) kemarin, rupiah berakhir stagnan melawan dolar Amerika Serikat (AS) di level Rp 14.055/US$.

Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,51% ke level 6.244,47, dengan demikian bursa kebanggaan Indonesia ini mengakhiri penguatan dua hari berturut-turut.

Dari pasar obligasi, imbal hasil (yield) obligasi seri acuan tenor 10 tahun turun 1,5 basis poin (bps). Sebagai informasi, pergerakan yield obligasi berbanding terbalik dengan harganya. Ketika yield turun, berarti harga sedang naik. Sebaliknya, ketika yield naik, berarti harga sedang turun. Ini berarti terjadi aksi beli di pasar obligasi.






Dengan demikian, melihat pergerakan tersebut semua aset investasi RI bergerak berbeda-beda, rupiah stagnan, IHSG melemah, dan obligasi tenor 10 tahun menguat.

Pergerakan Kamis kemarin dipengaruhi keputusan suku bunga dari bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed), dan Bank Indonesia (BI).


The Fed memutuskan memangkas suku bunga 25 basis poin (bps) menjadi 1,75-2%. Ini merupakan kali kedua bank sentral pimpinan Jerome Powell ini memangkas suku bunga di 2019. Pelambatan ekonomi global yang mempengaruhi outlook perekonomian Paman Sam, serta inflasi yang masih lemah menjadi alasan The Fed memangkas suku bunga.

Di sisi lain, The Fed kini menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini menjadi 2,2%, lebih tinggi dibandingkan proyeksi yang diberikan pada Juni lalu sebesar 2,1%, meski untuk proyeksi jangka panjang masih tetap 1,9%. Proyeksi inflasi masih tetap sebesar 1,9% di tahun ini, dan 2,5% untuk jangka panjang.

Sementara itu Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga 7-day Reverse Repo Rate sebesar 25 bps menjadi 5,25%. Ini berarti BI sudah menurunkan suku bunga dalam tiga bulan berturut-turut.

"Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18-19 September 2019 memutuskan untuk menurunkan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 5,25%," kata Gubernur BI Perry Warjiyo.

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan Perry Warijyo dan sejawat akan kembali menurunkan BI 7 Day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,25%.



"Kebijakan tersebut konsisten dengan prakiraan inflasi yang tetap rendah di bawah titik tengah sasaran dan imbal hasil investasi aset keuangan domestik yang tetap menarik, serta sebagai langkah pre-emptive untuk mendorong momentum pertumbuhan ekonomi domestik di tengah kondisi ekonomi global yang melambat," kata Perry dalam konferensi pers usai RDG edisi September di Jakarta.

Suku bunga yang terus diturunkan diharapkan akan mempercepat laju perekonomian Indonesia, dimana BI memperkirakan produk domestik bruto (PDB) di kisaran 5,1% di tahun ini. Hal ini tentunya mendongkrak optimisme pelaku pasar PDB Indonesia bisa akan lebih tinggi lagi ke depannya.

Pemangkasan suku bunga oleh BI tersebut mampu membuat rupiah bangkit dari sebelumnya melemah 0,25% kemudian menjadi stagnan, tapi sayangnya IHSG belum mampu terbantu.

(BERLANJUT KE HALAMAN 2)


(pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading