BI Pangkas Bunga Acuan Lagi, IHSG & Rupiah Mulai Merayap Naik

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
19 September 2019 15:01
BI Pangkas Bunga Acuan Lagi, IHSG & Rupiah Mulai Merayap Naik

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan tanah air langsung memperbaiki keadaaan pasca pelaku pasar mendengar hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang memutuskan untuk memangkas tingkat suku bunga acuan alias 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin (bps), dari 5,5% menjadi 5,25%.

Keputusan terkait dengan suku bunga acuan tersebut diumumkan pada siang hari ini pasca RDG yang berlangsung selama dua hari selesai digelar. Keputusan ini sesuai dengan konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia, beserta juga analisis dari kami sendiri.

"Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18-19 September 2019 memutuskan untuk menurunkan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 5,25%," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers yang digelar di Gedung Bank Indonesia, Kamis (19/9/2019). 

Sebelum pemangkasan tingkat suku bunga acuan diumumkan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditransaksikan melemah 0,39% ke level 6.252,06. Kini, pelemahannya menipis menjadi 0,28% ke level 6.259,23. 

Sementara itu, sebelum pemangkasan tingkat suku bunga acuan diumumkan, rupiah melemah sebesar 0,25% di pasar spot ke level Rp 14.090/dolar AS. Kini, pelemahan rupiah tersisa 0,04% ke level Rp 14.060/dolar AS.

Keputusan dari BI untuk memangkas tingkat suku bunga acuan diumumkan pasca The Federal Reserve (The Fed) selaku bank sentral AS sudah terlebih dulu memangkas tingkat suku bunga acuannya pada dini hari tadi waktu Indonesia.

The Fed mengumumkan pemangkasan tingkat suku bunga acuan sebesar 25 bps ke rentang 1,75%-2%, menandai pemangkasan kedua di tahun ini pasca sebelumnya The Fed juga mengeksekusi pemangkasan tingkat suku bunga acuan sebesar 25 bps pada bulan Juli.

Melansir CNBC International, The Fed memangkas tingkat suku bunga acuan dengan dasar adanya dampak negatif dari perkembangan ekonomi dunia bagi prospek perekonomian AS, serta rendahnya tekanan inflasi.

Untuk diketahui, pemangkasan tingkat suku bunga acuan yang dieksekusi BI pada hari ini menandai pemangkasan tingkat suku bunga acuan selama tiga bulan beruntun. Dalam pertemuan di bulan Juli dan Agustus, BI mengeksekusi pemangkasan tingkat suku bunga acuan masing-masing sebesar 25 bps.

Pada saat ini, perekonomian Indonesia jelas membutuhkan pemangkasan tingkat suku bunga acuan. Pada awal bulan lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka pertumbuhan ekonomi periode kuartal II-2019. Sepanjang tiga bulan kedua tahun 2019, BPS mencatat perekonomian hanya tumbuh sebesar 5,05% secara tahunan (year-on-year/YoY), jauh melambat dibandingkan capaian kuartal II-2018 kala perekonomian mampu tumbuh sebesar 5,27%.

Pertumbuhan ekonomi pada tiga bulan kedua tahun 2019 juga melambat jika dibandingkan capaian pada kuartal I-2019 yang sebesar 5,07%. Untuk periode semester I-2019, perekonomian Indonesia hanya tumbuh 5,06% YoY.

Padahal, pada tiga bulan kedua tahun ini ada gelaran pemilihan umum (Pemilu) dan kehadiran bulan Ramadan yang diharapkan bisa mendongkrak konsumsi dan pertumbuhan ekonomi secara umum. Kenyataannya, perekonomian Indonesia tetap saja loyo.

Jelas dibutuhkan pemangkasan tingkat suku bunga acuan lebih lanjut guna merangsang laju perekonomian tanah air. Kala tingkat suku bunga acuan dipangkas lebih lanjut, bank akan semakin terdorong untuk menurunkan tingkat suku bunga kredit sehingga memacu dunia usaha untuk melakukan ekspansi. Selain itu, masyarakat juga akan terdorong untuk meningkatkan konsumsinya. Pada akhirnya, roda perekonomian akan berputar lebih kencang.

Kala perekonomian tumbuh di level yang relatif tinggi, maka saham-saham di tanah air dan rupiah akan menjadi seksi di mata investor. Alhasil, aksi beli atas saham-saham di tanah air dan rupiah mulai dilakukan pelaku pasar.

TIM RISET CNBC INDONESIA




(ank/ank)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading