Uji Nyali BI Jilid III: Apa Iya Bunga Acuan Dipangkas Lagi?

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
19 September 2019 09:59
Bagaimana kira-kira hasil RDG dari bank sentral?

Jakarta, CNBC Indonesia - Pekan ini termasuk pekan yang sibuk bagi pasar keuangan tanah air. Sepanjang pekan ini, pasar saham, pasar obligasi, hingga rupiah diterpa tekanan jual.

Secara total dalam dua perdagangan pertama di pekan ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selaku indeks saham acuan utama di Indonesia ambruk 1,55%, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah seri acuan tenor 10 tahun naik 6,6 basis poin (bps), dan rupiah melemah 0,93% di pasar spot melawan dolar AS.

Sebagai informasi, pergerakan yield obligasi berbanding terbalik dengan harganya. Ketika yield turun, berarti harga sedang naik. Sebaliknya, ketika yield naik, berarti harga sedang turun.


IHSG ambruk dalam dua hari perdagangan pertama di pekan ini seiring dengan tekanan begitu besar yang melanda saham-saham emiten produsen rokok. Harga saham PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) ambruk hingga 16,8% secara total pada tanggal 16 dan 17 September, sementara harga saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) ambruk 20,6% dalam periode yang sama. 

Saham-saham emiten produsen rokok dilego pelaku pasar seiring dengan keputusan pemerintah untuk menaikkan tarif cukai hasil tembakau (CHT) atau cukai rokok sebesar 23% mulai Januari 2020.

Keputusan tersebut dikemukakan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati usai menggelar rapat secara tertutup di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (13/9/2019). Sri Mulyani mengatakan bahwa dengan kenaikan tarif cukai rokok tersebut, maka harga jual eceran (HJE) pun mengalami kenaikan hingga 35%.

Sementara itu, tekanan bagi rupiah datang dari rilis data perdagangan internasional periode Agustus 2019 oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

Sepanjang bulan Agustus, BPS mencatat bahwa ekspor jatuh 9,99% secara tahunan (year-on-year/YoY), lebih dalam dibandingkan konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia yang memperkirakan kontraksi sebesar 5,7% saja. Sementara itu, impor terkontraksi sebesar 15,6%, juga lebih dalam dibandingkan konsensus yang memperkirakan penurunan sebesar 11,295%. Alhasil, neraca dagang hanya membukukan surplus sebesar US$ 85 juta, jauh lebih kecil dari proyeksi yang sebesar US$ 146 juta.

Surplus neraca dagang yang lebih rendah dari ekspektasi membuat pelaku pasar khawatir bahwa defisit transaksi berjalan/currenct account deficit (CAD) akan terus bengkak di kuartal III-2019.

Pada kuartal I-2019, BI mencatat CAD berada di level 2,6% dari Produk Domestik Bruto (PDB), jauh lebih dalam ketimbang CAD pada kuartal I-2018 yang berada di level 2,01% dari PDB. Kemudian pada kuartal II-2019, CAD membengkak menjadi 3,04% dari PDB. CAD pada tiga bulan kedua tahun ini juga lebih dalam ketimbang capaian pada periode yang sama tahun lalu di level 3,01% dari PDB.

Ketika CAD tak juga bisa diredam, rupiah memang akan mendapatkan tekanan. Untuk diketahui, transaksi berjalan merupakan faktor penting dalam mendikte laju rupiah lantaran arus devisa yang mengalir dari pos ini cenderung lebih stabil, berbeda dengan pos transaksi finansial (komponen Neraca Pembayaran Indonesia/NPI lainnya) yang pergerakannya begitu fluktuatif karena berisikan aliran modal dari investasi portfolio atau yang biasa disebut sebagai hot money

Pelemahan rupiah pada akhirnya membuat investor asing melego obligasi terbitan pemerintah Indonesia dan mendorong harganya turun (yield naik). Melansir publikasi dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, investor asing membukukan jual bersih atas obligasi terbitan pemerintah Indonesia senilai Rp 1,7 triliun pada tanggal 16 September. Untuk diketahui, data per tanggal 17 September belum dipublikasikan.

Sementara itu, melansir data dari RTI, dalam dua perdagangan pertama di pekan ini investor asing membukukan jual bersih senilai Rp 1,2 triliun di pasar reguler. 

Namun, pelaku pasar belum bisa bernafas lega dulu. Masih ada satu sentimen penting dari dalam negeri yang harus dipantau, yakni hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI).

Kemarin (18/9/2019), BI resmi memulai RDG yang akan berlangsung selama dua hari. Keputusan terkait dengan suku bunga acuan akan diumumkan pada siang hari ini (19/9/2019) pasca RDG selesai digelar.

Konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia memproyeksikan bank sentral akan memangkas BI 7 Day Reverse Repo Rate sebesar 25 bps menjadi 5,25% dalam pertemuan kali ini. Jika benar itu yang terjadi, maka akan menandai pemangkasan tingkat suku bunga acuan selama tiga bulan beruntun. Dalam pertemuan di bulan Juli dan Agustus, BI mengeksekusi pemangkasan tingkat suku bunga acuan masing-masing sebesar 25 bps.



Namun begitu, tak semua ekonom yang kami survei memproyeksikan adanya pemangkasan tingkat suku bunga acuan. Dari 11 ekonom yang kami survei, ada sebanyak tiga yang memproyeksikan tingkat suku bunga acuan akan dipertahankan dalam pertemuan kali ini. Ketiga ekonom tersebut berasal dari CIMB Niaga, Barclays, dan ING.

Jadi, bagaimana kira-kira hasil RDG dari bank sentral?

BERLANJUT KE HALAMAN 2 - > The Fed Pangkas Bunga, Tapi Kirim Sinyal Hawkish

The Fed Pangkas Bunga, Tapi Kirim Sinyal Hawkish
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading