Konsolidasi Ala BRI, Profitabilitas Aman Berkat Kredit UMKM

Market - Donald Banjarnahor & Arif Gunawan S., CNBC Indonesia
17 September 2019 20:07
BRI lagi-lagi menorehkan laba bersih tertinggi di antara BUMN se-Indonesia paruh pertama tahun ini.

Jakarta, CNBC Indonesia- Bank beraset terbesar, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), lagi-lagi menorehkan laba bersih tertinggi di antara BUMN se-Indonesia paruh pertama tahun ini, meski kinerja keuangan di anak usaha masih menjadi tantangan.

Dalam laporan keuangan per Juni 2019, bank pelat merah tersebut membukukan laba bersih Rp 16,16 triliun, naik sebesar 8,56% secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama tahun lalu Rp 14,89 triliun.

Rilis kinerja tersebut disambut hangat para investor dengan memburu saham emiten berkode BBRI tersebut. Pada Rabu (14/8/2019), harga saham perusahaan menguat 1,17% ke Rp 4.330/ saham dan menjadi saham yang paling aktif diperdagangkan pada hari tersebut.

Respon positif ini wajar terjadi mengingat margin bunga bersih (net interest margin/NIM) perseroan terjaga di 7,02%, tertinggi dibandingkan dengan bank lainnya. NIM mengindikasikan kesuksesan sebuah bank memutar dana simpanan masyarakat yang dikelolanya.



Namun, harus diakui bahwa NIM tersebut terhitung turun tipis, yakni sebesar 62 basis poin (bp) secara year on year (YoY), sebagai akibat tekanan yang diterima oleh para debiturnya selama periode suku bunga tinggi (BI 7-Day reverse Repo Rate pada level 6%).

Uniknya, kinerja positif itu masih bisa dibukukan ketika bank beraset terbesar di Indonesia ini tengah mempercantik kinerja anak-anak usahanya, seperti PT Danareksa Sekuritas yang baru saja diakuisisi pada tahun lalu, dan dua anak usaha perbankan.

Mengacu pada neraca keuangan, perseroan mengalokasikan pencadangan kredit (konsolidasi) senilai Rp 3,83 triliun. Sebanyak Rp 1,49 triliun adalah pencadangan untuk kredit nasabah yang terdampak bencana gempa, dan sisanya Rp 2,34 triliun dari kredit konsolidasi perseroan.





Pada periode tersebut, PT BRI Agroniaga Tbk (AGRO) mencatatkan kredit bermasalah (
non performing loan/NPL) sebesar 4,43% atau naik dari posisi akhir tahun lalu 2,86%. Sementara itu, total kredit bermasalah sebesar Rp 779 miliar, naik Rp 331,3 miliar sepanjang tahun berjalan.

Tidak heran, angka CKPN bank yang fokus ke sektor agribisnis ini pun tercatat sebesar Rp 101,5 miliar per Juni 2019, melesat dari 16,5 miliar setahun sebelumnya. Laba bersih tercatat hanya Rp 78,3 miliar, terpangkas 57,9% (yoY) per Juni 2019.

Di sisi lain, PT Bank BRIsyariah Tbk membukukan beban CKPN aset produktif dan non produktif neto senilai Rp 358,5 miliar, membengkak dari posisi setahun sebelumnya Rp 200,5 miliar. Laba bersih perseroan anjlok 70,4% menjadi hanya Rp 30 miliar.


BERSAMBUNG KE HALAMAN 2 >>>>> Kredit Mikro Jadi Mesin Utama

Kredit Mikro Jadi Mesin Utama
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading