Kacau! Dalam 5 Tahun, Utang Emiten BUMN Melesat 10 Kali

Market - Dwi Ayuningtyas, CNBC Indonesia
17 September 2019 12:28
Moody's menyampaikan bahwa negara dengan tingkat pajak yang kecil umumnya bergantung BUMN untuk mendanai sebagaian besar pembiayaan publik.
Pada dasarnya, tingkat utang yang tinggi belum tentu berarti bahwa perusahaan dilanda masalah likuiditas. Hal ini dikarenakan, jika utang perusahaan disokong oleh kinerja laba dan modal yang cukup maka artinya pengelolaan utang perusahaan cukup baik.

Nah, salah satu rasio keuangan yang umum digunakan untuk menganalisa performa utang dalam hal ini tingkat likuiditas adalah debt-to-equity ratio (DER).

DER menunjukkan tingkat utang perusahaan yang dihitung dengan membagi total utang dengan total ekuitas. DER bisa juga menandakan resiko kredit perusahaan, semakin tinggi nilainya maka semakin besar resiko kredit.




Emiten BUMN perbankan dikecualikan dari perhitungan DER mengingat aktifitas bisnis utama industri perbankan adalah penyaluran kredit.

Tabel di atas menunjukkan bahwa emiten pelat merah yang bergerak di industri konstruksi lagi-lagi mendominasi posisi teratas, meskipun nilai tertinggi dicatatkan oleh GIAA dengan capaian DER sebesar 4,4x. Lalu disusul oleh ADHI dengan DER 3,9x dan WSKT dengan nilai DER 3,6x.

Untuk diketahui, perolehan DER emiten konstruksi cukup tinggi karena banyak proyek-proyek yang bertipe turnkey yang artinya pembayaran dilakukan saat pekerjaan telah selesai seluruhnya atau pada saat proyek serah terima dari kontraktor ke pemilik proyek (developer).

Adapun, emiten yang pertumbuhan DER melesat paling besar dalam 6 tahun terakhir adalah PT Semen Baturaja Tbk (SMBR) yang awalnya hanya mencatat nilai DER sebesar 0,08x di tahun 2014 menjadi 0,62x di tahun 2018. Akan tetapi, perolehan DER SMBR terbilang rendah dibandingkan dengan rekan BUMN lainnya.

TIM RISET CNBC INDONESIA
(dwa/hps)
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading